|
METRORIAU.COM
|
![]() |
|
||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||

KUANTAN SINGINGI - Di tepian Sungai Kuantan, Desa Koto Benai dikenal sebagai salah satu desa tertua di wilayah Kenegerian Benai. Dari desa yang masih lekat dengan kehidupan masyarakat agraris ini, kelompok ternak sapi binaan program Community Development (CD) PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) tumbuh menjadi harapan baru bagi warga untuk meningkatkan perekonomian keluarga.
Perjalanan kelompok ternak ini dimulai pada tahun 1999, saat program CD RAPP masuk ke Desa Koto Benai, Kecamatan Benai. Pada saat itu, Kabupaten Kuantan Singingi baru saja mekar dari Kabupaten Indragiri Hulu. Tahun yang sama juga menjadi awal terbentuknya Kelompok Ternak Ingin Maju yang pada awal pembentukannya beranggotakan 28 orang warga Desa Koto Benai.
Sebelum bantuan hibah sapi disalurkan, CD RAPP terlebih dahulu memberikan bimbingan, pelatihan, hingga studi banding kepada anggota kelompok. Setelah melalui proses tersebut, pada tahun 2001 sebanyak 10 kepala keluarga (KK) menerima bantuan masing-masing tiga ekor sapi, terdiri dari dua sapi betina dan satu sapi jantan, dengan total bantuan mencapai 30 ekor sapi yang nantinya digulirkan kepada anggota kelompok lainnya.
Bagi masyarakat Desa Koto Benai, beternak sapi bukan sekadar aktivitas sampingan, melainkan bagian dari kehidupan yang telah diwariskan turun-temurun sejak zaman nenek moyang. Hampir setiap hari, warga terbiasa menggembalakan ternak dan mencari pakan sebagai bagian dari rutinitas yang menyatu dengan kehidupan masyarakat.
Setelah lebih dari dua dekade berjalan, kini Kelompok Ternak Ingin Maju diketuai oleh Zaharatul Aini (56). Perempuan yang akrab disapa Ratil ini memimpin Kelompok Ternak Ingin Maju sejak tahun 2010 dan juga merupakan salah satu anggota awal saat kelompok ini dibentuk, sehingga menjadi saksi perjalanan perkembangan kelompok ternak tersebut hingga saat ini.
"Tahun 1997, saya dan suami balik ke kampung dengan membawa anak pertama kami, dari situlah kami memulai semuanya dari 0 kembali, setelah sebelumnya suami sempat bekerja di Kota Pekanbaru. Waktu itu kondisi ekonomi keluarga masih serba terbatas," ungkap Ratil sambil mengenang kembali kenangan saat awal mula ia merintis dulu.
Bagi Ratil, keputusan untuk kembali ke kampung halaman bukanlah tanda menyerah, melainkan langkah besar untuk memulai kehidupan baru bersama keluarga. Ia memahami betul bahwa keinginan kuat suaminya untuk pulang ke desa lahir dari tekad untuk mengabdi dan membangun kampung halaman melalui usaha yang bisa mereka jalani bersama masyarakat setempat.
Ratil dan suaminya merupakan lulusan sarjana dari salah satu perguruan tinggi negeri di Kota Pekanbaru. Namun, di tengah peluang untuk bertahan dan bekerja di kota, keduanya justru memilih kembali ke Desa Koto Benai. Keputusan itu kemudian menjadi titik balik bagi mereka untuk memulai kehidupan baru sekaligus terlibat dalam pengembangan usaha peternakan di Desa Koto Benai.
“Padahal pada tahun 1999 itu Kabupaten Kuantan Singingi baru dimekarkan. Sebenarnya saat itu menjadi kesempatan bagi kami untuk menjadi pegawai pemerintah, karena kami sama-sama memiliki ijazah sarjana. Tapi waktu itu kami belum berminat ke arah sana dan memilih fokus mengembangkan usaha ternak sapi ini,” ucap Ratil.
Sejak kecil, Ratil sudah terbiasa hidup berdampingan dengan ternak sapi. Saat menginjak bangku sekolah menengah pertama, ia mulai diajarkan orang tuanya cara merawat sapi, mulai dari mencari pakan, membersihkan kandang, hingga menggembalakan ternak. Dari usaha peternakan keluarga itulah, Ratil akhirnya bisa melanjutkan pendidikan hingga menempuh gelar sarjana.
Kini, aktivitas sehari-hari Ratil banyak dihabiskan untuk beternak dan berkebun. Sebagai seorang ibu, sejak pagi hari ia terlebih dahulu menyiapkan sarapan untuk keluarganya sebelum memulai aktivitas di kandang Kelompok Ternak Ingin Maju. Setelah itu, Ratil bersama anggota kelompok lainnya mencari pakan untuk sapi-sapi mereka.
Usai beristirahat siang di rumah, Ratil dan anggota kelompok kembali melanjutkan pekerjaannya di kandang koloni. Di area yang sama, mereka juga memanfaatkan lahan untuk berkebun cabai sebagai tambahan penghasilan. Menjelang sore, juga rutin dilakukan penambahan pakan sapi sebelum pulang ke rumah. Rutinitas tersebut hampir dijalani setiap harinya.
Sebelum adanya kandang koloni, anggota Kelompok Ternak Ingin Maju menjalankan aktivitas beternak secara masing-masing. Namun pada tahun 2020, melalui inisiasi kelompok yang turut didukung CD RAPP, dibangun kandang koloni untuk menyatukan aktivitas peternakan dalam satu area. Kini, berbagai kegiatan dilakukan secara terintegrasi, mulai dari pemeliharaan sapi, pengolahan kompos, hingga berkebun cabai.
“Sejak tahun 2020, kami juga mulai melakukan penghitungan nilai aset kelompok dalam bentuk rupiah supaya perkembangan usaha bisa lebih terukur. Waktu itu nilainya masih sekitar Rp60 juta, sedangkan sekarang aset kelompok sudah mencapai Rp173 juta. Alhamdulillah, setiap tahun nilainya terus mengalami peningkatan seiring bertambahnya jumlah ternak dan hasil usaha kelompok,” ujar Ratil.
Hasil usaha ternak tersebut juga perlahan mampu meningkatkan perekonomian keluarga anggota Kelompok Ternak Ingin Maju. Ratil sendiri merasakan manfaat dari hasil jerih payahnya selama beternak, salah satunya dengan menyekolahkan anak hingga ke perguruan tinggi. Tidak hanya itu, dari usaha yang dijalani, Ratil dan suami juga telah berkesempatan berangkat umroh untuk menunaikan ibadah ke Tanah Suci.
“Intinya jangan gengsi untuk beternak. Walaupun tangan kotor dan setiap hari bekerja di bawah panas matahari, percayalah bahwa apa yang kita kerjakan dengan sungguh-sungguh pasti akan membuahkan hasil. Semua butuh proses dan tidak bisa instan, tapi kalau dijalani dengan sabar dan konsisten, usaha ini bisa membawa kehidupan menjadi lebih baik,” ujar Ratil.
Ratil memahami bahwa usaha ternak tidak selalu berjalan mulus. Tahun 2024 menjadi masa berat bagi Kelompok Ternak Ingin Maju ketika sejumlah sapi mereka terserang Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) menjelang Iduladha. Meski sempat terdampak, Ratil dan anggota kelompok lainnya tetap bertahan dan perlahan bangkit kembali melanjutkan usaha peternakan mereka.
Melalui pendampingan dan pembinaan yang terus dilakukan oleh program CD RAPP, para anggota Kelompok Ternak Ingin Maju kembali termotivasi untuk mengembangkan usaha peternakan mereka, mulai dari penguatan manajemen kelompok, perawatan ternak, hingga pengembangan usaha terus dilakukan agar aktivitas peternakan tetap berjalan dan dapat kembali stabil.
Kini, menyambut Iduladha tahun ini, Ratil bersama Kelompok Ternak Ingin Maju mulai bersiap memenuhi kebutuhan sapi kurban di Provinsi Riau. Sejumlah ternak telah dipersiapkan untuk penjualan menjelang hari raya, yang juga menjadi momentum penting bagi kelompok untuk meningkatkan hasil usaha.
Sepekan menjelang Iduladha, suasana kandang koloni Kelompok Ternak Ingin Maju tampak berbeda dari biasanya. Deretan kandang yang sebelumnya dipenuhi sapi kini mulai terlihat lengang karena sebagian besar ternak telah disalurkan kepada para pembeli untuk persiapan hari raya kurban.
Dari penjualan tersebut, keuntungan nantinya dibagi dengan skema 70 persen untuk anggota yang memelihara ternak dan 30 persen masuk ke kas kelompok sebagai modal pengembangan usaha bersama. Sistem tersebut telah diterapkan untuk menjaga keberlangsungan usaha kelompok.
Ratil mengaku, saat ini minat generasi muda untuk menjadi peternak mulai berkurang. Banyak anak muda memilih bekerja di sektor lain karena menganggap beternak sebagai pekerjaan yang berat dan kurang menjanjikan. Padahal menurutnya, jika dijalani dengan tekun dan serius, usaha peternakan mampu menjadi sumber penghidupan yang berkelanjutan.
Agribusiness Program Officer Community Development RAPP drh Jeni Febrianto, MMA. yang selalu mendampingi Kelompok Ternak Ingin Maju menyampaikan apresiasi dan rasa bangga atas perkembangan positif Kelompok Ternak Ingin Maju di Desa Koto Benai yang telah tumbuh dan bertahan lebih dari dua dekade.
"Perjalanan kelompok ini menjadi bukti nyata bahwa program pemberdayaan masyarakat yang dijalankan secara konsisten melalui pendampingan, pelatihan, penguatan kelembagaan, serta semangat gotong royong setiap anggota kelompok mampu menciptakan usaha ternak yang mandiri dan berkelanjutan," sebut Jeni.
Melalui pendampingan berkelanjutan CD RAPP, Kelompok Ternak Ingin Maju di Desa Koto Benai diharapkan terus berkembang sebagai usaha masyarakat yang mandiri. Kelompok ini juga menjadi bukti bahwa usaha peternakan yang dijalani secara bersama-sama mampu membantu meningkatkan perekonomian masyarakat desa.*