|
METRORIAU.COM
|
![]() |
|
||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||

PEKANBARU – Mahasiswa Institut Bisnis dan Teknologi (IBT) Pelita Indonesia (PI) menggelar kegiatan Google Fill & Feel Festival dengan tema “New Knowledge, New Upgrade”. Kegiatan berlangsung di Kampus 2 IBT Pelita Indonesia, Minggu (26/7/2026).
Kegiatan menjadi ajang edukatif sekaligus interaktif dalam memperkenalkan pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), khususnya dalam ekosistem Google.
Kegiatan diinisiasi Ervin Chandrawan, mahasiswa semester 3 jurusan Teknik Informatika yang juga merupakan Google Student Ambassador kampus IBT Pelita Indonesia.
Ia menjelaskan kegiatan merupakan bagian dari tanggung jawabnya sebagai ambassador untuk mencapai target pengembangan program melalui penyelenggaraan acara yang berdampak bagi mahasiswa.
Menurut Ervin, konsep acara dirancang agar peserta tidak hanya mendapatkan teori, tetapi juga dapat langsung merasakan penggunaan teknologi Google AI, terutama Gemini yang menjadi fokus utama.
“Acara kami buat agar teman-teman bisa mengisi wawasan dan merasakan langsung teknologi ekosistem Google AI. Harapannya, semua peserta mendapatkan manfaat positif serta meningkatkan skill dalam memanfaatkan AI dengan baik, khususnya Gemini,” jelasnya.
Seluruh rangkaian kegiatan berfokus pada eksplorasi berbagai tools AI yang terdapat dalam platform Gemini. Peserta diajak memahami fungsi serta mencoba langsung fitur-fitur tersebut dalam praktik.
Peserta kegiatan tidak hanya berasal dari internal IBT Pelita Indonesia, tetapi juga dari berbagai perguruan tinggi lain, seperti Universitas Riau (Unri), Universitas Muhammadiyah Riau (Umri), dan kampus lainnya. Tercatat sebanyak 110 peserta mengikuti kegiatan ini melalui pendaftaran secara daring.
Sementara itu, Rektor IBT Pelita Indonesia, Prof. Dr. Amries Rusli Tanjung, S.E., M.M., Ak menegaskan pentingnya memahami perkembangan teknologi yang terus mengalami kemajuan pesat.
“Teknologi informasi akan terus berkembang seperti Google. Banyak fitur di smartphone berasal dari Google dan akan terus digunakan. Namun AI memiliki dua sisi, yaitu positif dan negatif. Mesin dapat meniru kecerdasan manusia, tetapi tidak memiliki rasa. Karena itu, manusia tetap harus memegang kendali,” ungkapnya.
Kegiatan menghadirkan dua pembicara utama, yakni Prof. Dr. Erlin, S.Kom., M.Kom., PhD selaku Manajer Mutu LSP IBT Pelita Indonesia, serta Ervin Chandrawan dalam sesi talkshow.
Dalam sesi seminar, Prof. Erlin menyampaikan AI bukanlah ancaman, melainkan peluang besar bagi generasi muda.
“AI adalah super power baru, bukan ancaman. Kita harus mengubah cara pandang dari threat menjadi opportunity. Kita harus bekerja secara cerdas dan efisien bersama AI. Bukan AI yang menggantikan kita, tetapi orang yang lebih cerdas dalam menggunakan AI,” jelasnya.
Ia menekankan pentingnya kemampuan creative thinking dan analytical thinking dalam penggunaan AI. Menurutnya, menyerahkan seluruh pekerjaan kepada AI merupakan pola pikir yang keliru. Justru, kehadiran AI membuka peluang profesi baru seperti AI engineer, data specialist, hingga AI prompt engineer.
Ia menjaskan, ekosistem Google sangat dekat dengan kehidupan mahasiswa, mulai dari Google Scholar, NotebookLM, Gmail, Google Drive, hingga Google Classroom, yang menunjukkan bahwa teknologi tersebut telah menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari.
Pada sesi talkshow, Ervin membagikan pengalaman serta tips menjadi Google Student Ambassador, sekaligus mengulas pemanfaatan Google AI, khususnya Gemini. Ia juga menekankan pentingnya penggunaan AI secara etis, dengan menjadikannya sebagai asisten, bukan pengganti manusia sepenuhnya.
Selain seminar dan talkshow, kegiatan ini juga menghadirkan sesi interaktif berupa booth dan permainan bingo yang menjadi salah satu bagian paling menarik dalam acara. Setiap booth dijaga oleh panitia dan memiliki misi tertentu yang harus diselesaikan peserta. Dalam setiap booth, peserta dapat mencoba langsung fitur AI Gemini.
Peserta yang berhasil menyelesaikan tantangan berkesempatan mendapatkan merchandise dengan sistem “siapa cepat, dia dapat”.
Meski menghadapi tantangan dalam persiapan, terutama terkait waktu yang cukup singkat antara persetujuan proposal dan pelaksanaan acara, panitia tetap berupaya menyelenggarakan kegiatan secara maksimal.*