|
METRORIAU.COM
|
![]() |
|
||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||

PEKANBARU - Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, menantang sekitar ribuan mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah Riau (Umri) untuk berani bermimpi besar, keluar dari zona nyaman, dan membangun pola pikir yang kuat sejak hari pertama memasuki dunia kampus.
Pesan tersebut disampaikan Mentan Amran, saat menghadiri Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Umri tahun 2026 di Pekanbaru, Kamis (17/9/26).
Selain memberi motivasi di hadapan ribuan mahasiswa baru, kuliah umum yang diberikan
Mentan Amran sekaligus menjabat
Kepala Badan Pangan Nasional ini bertajuk “Membangun Kewirausahaan dan Agribisnis dalam Memperkuat Ketahanan Pangan Nasional.”
Menurut Mentan Amran, keberhasilan tidak ditentukan oleh kekayaan, keturunan, jabatan orang tua, maupun asal daerah. Menurutnya, masa depan berada di tangan mereka yang berani bermimpi, mengambil tindakan, bekerja keras, dan bertahan ketika menghadapi tekanan.
"Jangan kamu mengkomparasi dengan orang lain. Kamu adalah kamu, bukan orang lain. Kekuatanmu bukan uang, bukan turunan, bukan orang tua pejabat. Sukses tidak mengenal latar belakang. Sukses di tanganmu," ujarnya.
Mentan Amran menambahkan, mimpi besar tidak akan berarti tanpa keberanian untuk mengambil tindakan. Ia mengingatkan mahasiswa bahwa perjalanan menuju keberhasilan tidak selalu mudah dan membutuhkan ketekunan untuk melewati berbagai tekanan.
"Kalau mau sukses, mimpi besar, make big dream. Tapi tidak cukup dengan mimpi. Ada orang mimpi besar, gagasannya besar, tapi tindakannya tidak ada, itu nol. Harus bertindak, take action," katanya.
Ia menilai tantangan terbesar justru muncul setelah seseorang memulai. Saat menghadapi kegagalan, tekanan, dan berbagai kesulitan, seseorang dituntut memiliki daya tahan untuk terus bergerak.
"Bermimpi itu mudah. Bertindak mulai sulit. Tapi yang paling sulit dalam hidup adalah bertahan, dan konsisten. Bertahan dalam kesulitan, bertahan dalam tekanan," ungkapnya lagi.
Bagi Mentan Amran, masa-masa sulit tersebut justru menjadi bagian penting dalam membentuk karakter dan daya juang.
"Ini yang membuat kita besar. Ini yang membuat kita lulus. Itu kuatnya sebuah cita-cita, mimpi. Jadi mimpi kita harus fokus," katanya.
Ia kemudian mengibaratkan tekanan sebagai proses yang menempa seseorang menjadi lebih kuat.
"Jadilah manusia yang unggul. Syaratnya, pertama itu berilmu. Kedua, bekerja keras, berakhlak mulia. Insya Allah pasti bisa berhasil," pesannya lagi.
Ia juga mengingatkan bahwa di balik setiap mahasiswa terdapat doa dan harapan orangtua yang menginginkan anaknya berhasil dan memiliki akhlak yang baik.
"Orangtuamu mengiringi dengan doa setiap malam agar kamu menjadi manusia sukses dan berakhlak mulia. Jangan sia-siakan itu," katanya.
Karena itu, Mentan mendorong mahasiswa untuk berani berjuang sejak sekarang.
"Kalau mau sukses, sekarang kamu berjuang. Struggle now. Jangan bermain-main dengan masa depan. Gunakan waktu ini untuk membentuk diri," ucapnya.
Terkait pentingnya menumbuhkan jiwa kewirausahaan di kalangan generasi muda, khususnya sektor pertanian, Mentan Amran mengatakan, hal itu memiliki ruang luas untuk dikembangkan sebagai bidang usaha, melalui penerapan teknologi, inovasi, pengelolaan yang profesional, serta kreativitas generasi muda.
Sementara itu, Rektor Umri, Saidul Amin, menyampaikan apresiasi atas kehadiran Menteri Pertanian RI dalam rangkaian PKKMB Umri. Menurutnya, kehadiran mentan memberikan pengalaman dan wawasan langsung kepada mahasiswa baru mengenai tantangan sekaligus peluang pengembangan sektor pertanian dan agribisnis.
“Kehadiran Pak Menteri hari ini memberikan motivasi yang sangat kuat kepada mahasiswa kita. Anak-anak kita harus memiliki mental untuk bekerja keras, jujur, konsisten dan berani mengambil peluang. Karena masa kuliah ini adalah masa latihan untuk mempersiapkan mereka menghadapi kehidupan yang sesungguhnya,” ujar Saidul Amin.
Ia menjelaskan, Umri juga terus mendorong pemanfaatan lahan pertanian yang berada di lingkungan kampus utama. Lahan seluas 3,8 hektare tersebut akan dikembangkan secara terencana dan berkelanjutan, tidak hanya sebagai kawasan produksi pertanian, tetapi juga sebagai laboratorium lapangan bagi mahasiswa.
Ia menambahkan, keberadaan lahan pertanian di lingkungan kampus memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk melihat secara langsung penerapan ilmu yang diperoleh di ruang kuliah dalam kehidupan nyata, khususnya pada bidang pertanian, agribisnis, kewirausahaan, dan ketahanan pangan.
“Kami berharap pengembangan ini dapat menjadi contoh pengelolaan ketahanan pangan Umri yang dilakukan secara terencana dan berkelanjutan. Kami juga berharap pengembangan ini membuka peluang kolaborasi antara universitas, pemerintah, dunia usaha, mahasiswa, dan berbagai pihak lainnya,” lanjut Saidul Amin, seraya mengatakan kegiatan ini berlangsung selama tiga hari, mulai Rabu (16/9/26) hingga Jumat (18/9/26).
Melalui pengembangan kawasan pertanian tersebut, Umri berupaya mengintegrasikan pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, kewirausahaan, dan ketahanan pangan dalam satu ekosistem berbasis kampus.
Langkah ini sekaligus menjadi bagian dari upaya Umri dalam menyiapkan mahasiswa agar tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga memiliki pengalaman praktis, jiwa kewirausahaan, serta kepedulian terhadap berbagai persoalan strategis, termasuk ketahanan pangan nasional.
Selain memberikan motivasi, dan memupuk jiwa kewirausahaan,
kehadiran Mentan Amran juga diwarnai kepedulian terhadap mahasiswa Umri. Di kesempatan tersebut, beliau memberikan uang pembinaan kepada beberapa mahasiswa baru (maba) Umri yang berstatus yatim dan piatu, sebagai bentuk perhatian dan dukungan agar mereka tetap bersemangat menyelesaikan pendidikan.
Tantangan Global
Di kesempatan yang sama, Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) RI, Muhammad Anis Matta, juga turut membekali mahasiswa baru Umri dengan wawasan tentang berbagai tantangan global yang akan dihadapi generasi muda, baik selama menempuh pendidikan maupun setelah memasuki dunia kerja.
Menurutnya, mahasiswa harus memandang masa kuliah sebagai kesempatan strategis untuk mempersiapkan diri menjadi generasi yang mampu mengambil peran dalam kehidupan bangsa.
“Biasanya orang-orang yang masuk perguruan tinggi memiliki peluang besar untuk suatu waktu menjadi elite dan pemimpin Indonesia. Jadi, anak-anakku sekarang perlu bersyukur,” kata Anis Matta.
Ia mengingatkan, mahasiswa akan menghadapi perubahan besar setelah menyelesaikan pendidikan. Salah satunya adalah tantangan ekonomi yang dapat berdampak pada ketersediaan lapangan pekerjaan. Kondisi tersebut, menurutnya, berkaitan dengan berbagai persoalan global, termasuk pangan, energi, inflasi, dan perubahan ekonomi dunia.
Selain itu, perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (AI) juga akan membawa perubahan signifikan terhadap dunia kerja. Transformasi teknologi berpotensi mengubah struktur pekerjaan sekaligus menuntut generasi muda memiliki kemampuan baru yang relevan dengan perkembangan zaman.
“Teknologi baru sekarang ini akan berkembang terus-menerus, khususnya artificial intelligence, yang akan menyebabkan perubahan pasar kerja,” jelasnya.
Karena itu, Anis Matta mendorong mahasiswa untuk membangun budaya belajar sepanjang hayat. Menurutnya, mahasiswa tidak cukup hanya mengandalkan pengetahuan yang diperoleh di ruang kelas, tetapi juga perlu memanfaatkan perkembangan teknologi sebagai sumber pembelajaran dan pengembangan kapasitas diri.
“Saya akan katakan satu hal, Anda, semua yang Anda pelajari di kelas juga bisa didapatkan melalui AI atau pengetahuan yang lain,” ucapnya.
Di tengah perubahan tersebut, Anis Matta juga mengingatkan mahasiswa untuk memiliki wawasan terhadap dinamika politik dan konflik global.
Katanya, berbagai perkembangan geopolitik dunia dapat memberikan dampak terhadap kehidupan masyarakat, termasuk bidang ekonomi dan sosial.***