|
METRORIAU.COM
|
![]() |
|
||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||

SELATPANJANG - Plt Bupati Kepulauan Meranti, AKBP (Purn) H Asmar merespon cepat informasi mengenai kondisi Sekolah Dasar Negeri (SDN) 17 Kundur, Kecamatan Tebingtinggi Barat. Asmar langsung turun ke sekolah dan memberikan arahan kepada OPD terkait, Selasa (16/7).
Hadir Camat Tebingtinggi Barat, Rinaldi dan Kepala Bagian Kesra, Syafrizal, tokoh masyarakat Desa Kundur, Sutrisno dan Kepala Desa Kundur, Ali Mashar.
Informasi mengenai kondisi sekolah didapat Plt Bupati melalui pemberitaan di media massa. Asmar menyatakan informasi tersebut sangat menyita perhatiannya. "Saya turun langsung ke lapangan untuk memastikan informasi dan segera mengatasi persoalan ini," tegasnya.
Asmar menegaskan dalam waktu dekat akan mendatangkan meja dan kursi sebanyak 20 unit. "Besok langsung kita drop meja dan kursinya sebanyak 20 unit," tuturnya.
Terkait bangunan gedung yang rusak, Asmar berjanji akan membangunnya pada anggaran perubahan tahun 2024.
"Bangunan akan kita bangun dan anggarannya sudah kita pastikan akan masuk di DPA APBD perubahan 2024 nanti. Dua lokal akan kita bangun langsung dan sudah kita koordinasikan ke dinas terkait," tambahnya.
Selain itu, Asmar juga menyumbang keramik lantai untuk sebuah ruangan yang belum memiliki lantai keramik menggunakan uang pribadinya.
"Ada ruangan yang saya lihat belum dikeramik. Kita bangun dan butuh sebanyak 72 kotak melalui uang pribadi saya. Kalau menunggu penganggaran agak lama, jadi pakai uang pribadi saja dulu supaya masalah bisa selesai dengan cepat," ucapnya.
Sementara itu, Kepala SDN 17 Kundur, Tuti Karyawati mengucapkan terima kasih kepada Plt Bupati Asmar beserta rombongan yang telah berkunjung untuk melihat kondisi sekolahnya secara langsung.
"Ucapan yang luar biasa buat Plt Bupati Asmar dan rombongan yang sudah sudi hadir di sini melihat kondisi sekolah secara langsung. Alhamdulillah, untuk kursi dan meja sudah ditangani, dan yang kami butuhkan lagi lokal belajar anak," ujar Tuti.
SDN 17 Kundur masih memiliki ruang kelas yang terbuat dari kayu, dibangun pada tahun 2011 dari hasil swadaya masyarakat. Ruang kelasnya digunakan oleh siswa kelas satu dan dua.
Sutrisno, salah satu pendiri sekolah, menceritakan sekolah dibangun untuk memangkas jarak tempuh bagi siswa Suku Akit yang harus berjalan kaki sejauh lima kilometer untuk bersekolah ke desa tetangga.*