|
METRORIAU.COM
|
![]() |
|
||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||

SELATPANJANG - Pemadaman listrik yang terus berulang di Kota Selatpanjang akhirnya mendapat perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti. Setelah aksi ratusan warga yang mendatangi Kantor ULP PLN Selatpanjang pada Jumat (24/10/2025) malam, Pemkab langsung bergerak cepat.
Sabtu (25/10/2025) pagi, Aula Kantor Bupati Selatpanjang menjadi saksi rapat koordinasi darurat yang dipimpin oleh Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesra, Sudandri Jauzah. Suasana rapat terasa tegas namun tetap terbuka — semua pihak menyadari bahwa persoalan listrik bukan sekadar urusan teknis, tetapi sudah menyentuh urat nadi kehidupan masyarakat.
Manager ULP PLN Selatpanjang, Dalie Priasmoro, dalam rapat dengan nada penuh tanggung jawab menyampaikan permohonan maaf. Ia menjelaskan gangguan utama disebabkan oleh kerusakan tiga unit mesin pembangkit. Akibatnya, pasokan listrik yang tersisa hanya sekitar 7,8 megawatt, sementara kebutuhan normal masyarakat mencapai 12 hingga 13,5 megawatt.
“Kami sudah berkoordinasi dengan pimpinan dan pemerintah daerah. Ada beberapa spare part mesin yang sedang dipesan dari luar negeri dan kini dalam proses pengiriman. Kami perkirakan, dalam 10 hari ke depan kondisi kelistrikan di Kepulauan Meranti akan kembali normal,” ujar Dalie dengan nada optimis.
Ia juga menegaskan bahwa perubahan jadwal pemadaman bukanlah karena kelalaian, melainkan langkah darurat agar sistem tidak kolaps.
“Kami paham masyarakat lelah, tapi ini satu-satunya cara untuk menjaga jaringan tetap hidup di tengah kekurangan daya,” tambahnya.
Sebagai bentuk keseriusan, PLN juga telah menyiapkan satu unit mesin tambahan dari Batam yang saat ini sedang dalam tahap persiapan pengiriman. Langkah ini diharapkan menjadi solusi cepat untuk menutup defisit daya yang selama ini membayangi Kepulauan Meranti.
Rapat tersebut menjadi bukti bahwa Pemkab dan PLN mulai bergerak seirama untuk mengembalikan cahaya di Selatpanjang — kota kecil yang malam-malamnya belakangan ini lebih sering diselimuti gelap daripada terang.
Sejumlah tokoh masyarakat turut menyampaikan aspirasi dalam forum tersebut. Hendrizal alias Bocang menegaskan agar pernyataan dan target PLN dibuat dalam bentuk tertulis.
“Kami minta komitmen itu dibuat resmi dan ditandatangani, supaya masyarakat punya pegangan,” katanya.
Sementara itu, H. Nazarudin menambahkan, masyarakat hanya ingin mendengar kepastian.
“Kami tidak mau tahu soal teknisnya, yang penting ada kepastian kapan listrik kembali normal,” ujarnya.
Menanggapi hal tersebut, Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesra Sudandri menekankan bahwa rapat ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan sebelumnya, sekaligus wujud keseriusan Pemkab dalam mencari solusi.
Sebelumnya Manajer UP3 PLN Dumai, Manihar Hutajulu, menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada seluruh masyarakat atas krisis listrik yang belum juga reda. Suaranya tenang, namun sarat kesungguhan.
“Kami memahami betul keresahan masyarakat Meranti. Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan ini,” ucapnya.
Manihar menjelaskan, tiga unit mesin pembangkit sewaan yang selama ini menjadi tulang punggung pasokan listrik di Meranti mengalami kerusakan hampir bersamaan dalam waktu sepekan terakhir. Akibatnya, pasokan daya anjlok drastis dan PLN terpaksa menerapkan pemadaman bergilir di sejumlah wilayah.*