|
METRORIAU.COM
|
![]() |
|
||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||

KAMPAR – Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan melakukan patroli perambahan hutan sekaligus meninjau kawasan konservasi di Taman Wisata Alam (TWA) Buluh Cina, Kabupaten Kampar, Kamis (6/11/2025).
Jenderal polisi bintang dua itu menyempatkan diri mengunjungi keluarga gajah yang hidup di kawasan konservasi tersebut.
Irjen Herry datang bersama Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau Supartono, sejumlah personel Bhabinkamtibmas, serta petugas konservasi gajah.
Di lokasi, Irjen Herry berinteraksi dengan seekor anak gajah bernama Dona, yang merupakan anak dari induk betina Ngatini dan gajah jantan Robin. Dengan santai, ia memberi makan tebu segar dan nanas kepada anak gajah berusia satu tahun itu.
Usai berinteraksi dengan keluarga gajah, Irjen Herry menegaskan komitmen jajarannya dalam memperkuat sinergi penegakan hukum di bidang kehutanan melalui konsep green policing.
Menurut Irjen Herry, konsep ini menjadi dasar penguatan kerja sama antara kepolisian dan instansi terkait dalam menghadapi perambahan hutan, perburuan satwa liar, serta aktivitas ilegal lainnya di kawasan konservasi.
“Patroli ini merupakan bagian dari koordinasi dan penguatan sinergi penegakan hukum di bidang kehutanan bersama BKSDA dan instansi terkait lainnya,” ujar Irjen Herry.
Sementara itu, Kepala BBKSDA Riau Supartono mengatakan, kehadiran Kapolda Riau di TWA Buluh Cina bertepatan dengan kegiatan patroli kehutanan yang tengah berlangsung.
“Kebetulan Pak Kapolda sedang patroli. Beliau menyempatkan diri untuk melihat potensi wisata alam di TWA Buluh Cina sekaligus berinteraksi dengan tiga gajah jinak kami. Beliau sangat senang melihat kondisi gajah di sini,” ujar Supartono.
Ia menambahkan, TWA Buluh Cina akan dikembangkan sebagai salah satu destinasi wisata alam unggulan di Riau. Selain wisata edukasi gajah, BBKSDA juga menyiapkan konsep wisata peluk pohon (tree hugging), yang kini banyak diminati sebagai bentuk relaksasi dan pendekatan diri dengan alam.
Supartono mengakui, ancaman perambahan dan aktivitas ilegal masih terjadi di sekitar kawasan konservasi tersebut. Karena itu, patroli rutin dan pengawasan terpadu dinilai penting untuk menjaga kelestarian kawasan serta melindungi satwa liar, termasuk gajah Sumatera.
“Setiap kawasan pasti memiliki potensi gangguan. Di ujung kawasan ini ada bagian yang sudah dibuka menjadi kebun sawit. Itu dulunya lahan masyarakat yang kemudian diserahkan kepada pemerintah,” jelasnya.
TWA Buluh Cina dikenal sebagai kawasan eko-eduwisata yang berfungsi sebagai tempat pelestarian alam, pendidikan satwa, serta pusat penelitian dan konservasi gajah Sumatera.
Kawasan ini juga menjadi salah satu lokasi penting dalam upaya mengenalkan dan menjaga populasi gajah di Provinsi Riau.*