|
METRORIAU.COM
|
![]() |
|
||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||

PEKANBARU – Seekor Gajah Sumatera ditemukan mati di Desa Lubuk Kembang Bunga, Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau, Senin, 2 Februari 2026. Sebagian kepala dan Gading gajah jantan itu hilang.
Dokter hewan dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, drh. Rini Deswita, mengatakan, gajah tersebut ditemukan mati di kawasan bukan mati secara alami.
'Hasil pemeriksaan nekropsi menunjukkan adanya cedera traumatik pada kepala akibat luka tembak," ujar Rini saat memberikan keterangan pers di Mapolda Riau, Jumat (6/2/2026).
Rini menjelaskan lebih rinci mengenai kondisi kepala gajah yang ditemukan. Gajah ditembak di bagian dahi. Setelah gajah mati, bagian depan kepala dipotong oleh pelaku.
Menurut Rini, tidak seluruh bagian kepala gajah terpotong, tapi hanya di bagian depan saja, yakni dari dahi, mata, telinga, hidung dan belalai, dan Gading di bawah mata.
Sedangkan engkorang bagian belakang masih menempel di badan satwa bertubuh bongsor itu.
“Kepala gajah tidak hilang seluruhnya, hanya bagian depan kepala, terdiri dari dahi, mata, telinga, hidung, dan belalai. Gading berada di bawah mata, tepatnya di area buah telinga, bagian itu yang hilang," jelas Rini.
Dari hasil pemeriksaan, gajah memiliki panjang badang 286 sentimeter dan diperkirakan berumur lebih dari 40 tahun. Satwa itu merupakan gajah liar, di liar bagian dari kantong Taman Nasional Tesso Nilo.
Pernyataan Rini kalau gajah ditembak juga diperkuat oleh Kepala Bidang Laboratorium Forensik Polda Riau, AKBP Ungkap Siahaan. Menurutnya pasna penemuan gajah, Selasa, 3 Februari 2026, tim Lanfor turun ke lokasi.
Tim melakukan pengambilan barang bukti di sekitar tempat kejadian perkara (TKP) dan menemukan dua potongan proyektil yang diduga berasal dari senjata api.
Potongan logam pertama memiliki diameter 12,30 mm dengan panjang 16,30 mm, sementara potongan kedua sepanjang sekitar 6,94 mm.
"Dari hasil pemeriksaan pendahuluan secara saintifik, dari dua potongan logam itu positif mengandung timbal dan kuningan, serta residu mesiu," ungkap Ungkap.
Barang bukti lainnya, berupa sampel tanah dan air di sekitar ekor, kaki, dan kepala gajah, telah diuji dan terbukti negatif sianida maupun merkuri. "Dengan demikian, hingga saat ini, indikasi keracunan tidak ditemukan,” jelas Siahaan.
Ditegaskan, penyebab kematian gajah ini murni akibat tembakan, dan bukan karena faktor racun atau kematian alami.
Proses pendalaman pemeriksaan barang bukti masih berlangsung untuk memastikan pelaku dan kronologi lebih lengkap.*