|
METRORIAU.COM
|
![]() |
|
||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||

PEKANBARU - Peta perpindahan penduduk di Provinsi Riau mulai berubah. Jika selama ini Pekanbaru dikenal sebagai pusat tujuan urbanisasi, hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 justru menunjukkan tren berbeda. Dalam lima tahun terakhir, lebih banyak penduduk keluar dari Pekanbaru dibandingkan yang masuk.
Sebaliknya, Kabupaten Kampar muncul sebagai daerah dengan daya tarik migrasi paling kuat di Riau.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Riau, Asep Riyadi, Rabu (6/5/2026), mengatakan mobilitas penduduk antar daerah di Riau kini semakin dinamis dan menunjukkan karakter yang berbeda di setiap kabupaten/kota.
"Migrasi seumur hidup didefinisikan sebagai perbedaan antara kabupaten/kota tempat tinggal saat survei dengan tempat lahir. Tempat tinggal mengacu pada tempat biasa menetap minimal satu tahun atau kurang dari satu tahun tetapi berniat menetap," jelasnya.
Berdasarkan data migrasi seumur hidup, Kabupaten Siak menjadi daerah dengan persentase migrasi masuk tertinggi di Riau, mencapai 44,01 persen. Posisi berikutnya ditempati Kampar sebesar 43,66 persen dan Pekanbaru 42,02 persen.
Pelalawan juga mencatat angka cukup tinggi sebesar 39,32 persen, disusul Dumai 37,49 persen, Rokan Hulu 36,29 persen, dan Rokan Hilir 35,69 persen.
Sementara itu, wilayah dengan tingkat migrasi masuk terendah adalah Indragiri Hilir sebesar 9,80 persen dan Kepulauan Meranti hanya 7,62 persen.
Tidak hanya rendah dalam menarik penduduk masuk, Kepulauan Meranti juga mencatat migrasi keluar seumur hidup cukup tinggi mencapai 21,38 persen. Bengkalis berada di posisi berikutnya dengan 16,80 persen, sedangkan Indragiri Hilir sebesar 14,31 persen.
Data migrasi risen atau perpindahan penduduk dalam lima tahun terakhir memperlihatkan perubahan arah mobilitas yang lebih tegas.
Kampar menjadi daerah dengan migrasi masuk risen tertinggi sebesar 9,44 persen, sementara migrasi keluar hanya 2,12 persen. Dengan selisih positif 7,33 persen, Kampar tercatat sebagai daerah dengan migrasi risen neto tertinggi di Riau.
"Kampar menjadi kabupaten dengan migrasi masuk risen tertinggi. Ini menunjukkan daya tarik Kampar yang semakin kuat," kata Asep.
Selain Kampar, sejumlah daerah lain juga masih mencatat migrasi neto positif. Siak memiliki migrasi masuk risen 4,49 persen dan keluar 2,25 persen. Indragiri Hulu mencatat masuk 3,59 persen dan keluar 2,30 persen. Rokan Hulu, Pelalawan, dan Rokan Hilir juga masih mengalami surplus migrasi, meski angkanya lebih kecil.
Berbeda dengan daerah lain, Pekanbaru justru mengalami arus keluar penduduk yang sangat tinggi. Kota ini mencatat migrasi keluar risen sebesar 12,69 persen, sedangkan migrasi masuk hanya 4,28 persen.
Akibatnya, Pekanbaru menjadi daerah dengan migrasi risen neto terendah di Riau, yakni minus 8,41 persen.
"Artinya dalam lima tahun terakhir, jumlah penduduk yang keluar jauh lebih besar dibandingkan yang masuk," ujar Asep.
Fenomena daerah pelepas penduduk juga terlihat di Bengkalis dan Kuantan Singingi. Bengkalis mencatat migrasi masuk risen 1,93 persen dan keluar 2,81 persen, sementara Kuantan Singingi mencatat masuk 2,07 persen dan keluar 2,66 persen.
Indragiri Hilir juga mengalami kondisi serupa dengan migrasi masuk 1,00 persen dan keluar 2,49 persen.
Menurut Asep, perubahan pola migrasi ini menjadi sinyal penting bagi pemerintah daerah dalam menentukan arah pembangunan ke depan.
Wilayah dengan arus penduduk masuk tinggi, kata dia, perlu memperkuat kesiapan infrastruktur dan layanan dasar. Sementara daerah yang terus kehilangan penduduk perlu meningkatkan daya tarik ekonomi agar tidak semakin tertinggal.
"Wilayah dengan arus masuk tinggi perlu menyiapkan infrastruktur dan layanan dasar, sementara daerah dengan arus keluar tinggi perlu memperkuat daya tarik ekonomi agar tidak terus kehilangan penduduk," tutupnya.*