|
METRORIAU.COM
|
![]() |
|
||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||

JAKARTA - Ketua Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (F-PKB) MPR RI, Neng Eem Marhamah Zulfa Hiz mengatakan, etnis Tionghoa merupakan salah satu arsitek utama dalam pembangunan Republik Indonesia (RI).
Pernyataan disampaikan Neng Eeem dalam sambutannya pada dialog kebangsaan Peran Tionghoa dalam Pusaran Kebangsaan di Jakarta, Minggu (19/7), merespons masih adanya dikotomi semu antara pribumi dan nonpribumi.
“Jika kita berani menengok masa lalu dengan mata batin yang jernih, etnis Tionghoa
bukanlah penumpang gelap di kapal besar bernama Indonesia, mereka salah satu arsitek
utama, pendiri sekaligus pemilik sah saham republik ini,” katanya.
Dia mengatakan jauh sebelum kemerdekaan Indonesia, pembauran budaya telah mengakar kuat di Nusantara melalui interaksi damai. Denyut akulturasi telah mengalir dalam keseharian masyarakat, mulai dari kuliner hingga arsitektur.
“Di masa itu, Laskar Tionghoa dan pejuang Jawa bersatu di medan laga, menghantam
kezaliman VOC. Sejarah ini menjadi bukti solidaritas lintas etnis demi menegakkan
keadilan telah tumbuh subur di bumi pertiwi sejak berabad-abad silam,” ujarnya.
Masa-masa kelam memang sempat mewarnai perjalanan sejarah pascakemerdekaan. Namun, presiden keempat RI sekaligus pendiri PKB Abdurrahman Wahid (Gus Dur) telah mengambil langkah penting dalam memberantas diskriminasi terhadap etnis Tionghoa.
Neng Eem menyebut kebijakan Gus Dur merupakan manifestasi dari nilai humanisme dan
keadilan sosial.
“Melalui Keppres Nomor 6 Tahun 2000, Gus Dur mematahkan belenggu Inpres Nomor 14 Tahun 1967. Beliau memulihkan hak sipil etnis Tionghoa, mengembalikan kebebasan merayakan Imlek, dan menempatkan Khonghucu setara dengan agama lainnya,” jelasnya.
Perjuangan tersebut berbuah manis. Ia menyebut etnis Tionghoa telah kembali berkontribusi tanpa canggung, baik di birokrasi, parlemen, dunia akademis, seni budaya, hingga panggung olahraga internasional.
F-PKB MPR RI berkomitmen untuk mengikis habis sisa-sisa diskriminasi, menempatkan narasi kontribusi etnis Tionghoa secara proporsional dan terhormat dalam kurikulum sejarah, serta mempererat kolaborasi inklusif antarelemen bangsa.
Indonesia tidak akan bisa melompat jauh jika masih ada warganya yang ditinggalkan di
belakang. Karenanya, Neng Eem mengajak seluruh pihak untuk menjaga persatuan dan merawat Bhinneka Tunggal Ika.*