|
METRORIAU.COM
|
![]() |
|
||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||

PEKANBARU - Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Riau mulai memetakan sejumlah komoditas pangan yang berpotensi mengalami lonjakan harga menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026. Langkah dilakukan sebagai upaya antisipasi dini untuk menjaga ketersediaan pasokan sekaligus mengendalikan inflasi di penghujung tahun.
Direktur Utama PT Riau Pangan Bertuah, Ade Putra Daulay, mengatakan pemetaan komoditas menjadi bagian penting dari strategi pengendalian inflasi. Dalam pelaksanaannya, TPID Riau juga berkolaborasi dengan Bank Indonesia (BI) untuk memperkuat langkah antisipasi terhadap potensi gejolak harga.
"Kami bersama dengan TPID Riau sudah mulai melakukan pemetaan terhadap komoditi yang berpotensi melonjak harganya di saat Natal dan Tahun Baru," ujar Ade di Pekanbaru, Kamis (13/8/2026).
Menurutnya, pembahasan mengenai risiko kenaikan harga tersebut juga telah dilakukan dalam rapat bersama BI. Pemetaan diperlukan agar pemerintah dapat mengetahui komoditas yang paling rentan mengalami tekanan ketika permintaan masyarakat meningkat.
Sejumlah bahan pangan strategis seperti cabai, bawang, daging, dan telur menjadi komoditas yang mendapat perhatian. Komoditas tersebut umumnya mengalami peningkatan permintaan menjelang periode perayaan Natal dan Tahun Baru.
Dengan pemetaan sejak jauh hari, intervensi terhadap pasar diharapkan dapat dilakukan sebelum kenaikan harga semakin tinggi. Salah satu instrumen yang disiapkan adalah penguatan ketersediaan stok melalui Toko Pangan yang dikelola PT Riau Pangan Bertuah.
"Kami akan kolaborasi sama BI. Insya Allah BI selalu siap support untuk membantu kita dalam menjaga stabilitas harga menjelang akhir tahun," katanya.
Ade menjelaskan, kolaborasi tersebut tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan pasokan, tetapi juga mencakup pertukaran data komoditas strategis dan koordinasi distribusi.
Langkah ini diharapkan dapat memperkuat pemantauan perkembangan harga pangan di seluruh kabupaten dan kota di Riau.
Dengan persiapan yang dilakukan lebih awal, pemerintah berharap potensi lonjakan harga selama momentum Nataru dapat ditekan.
Ketersediaan pasokan yang cukup dan distribusi yang lancar menjadi kunci agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi tanpa memicu tekanan inflasi yang berlebihan.*