Agu 2026
18

POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR
Sulap Kulit Ikan Menjadi Camilan, Melakers Menembus Batas
etalase | Selasa, 18 Agustus 2026 | 19:34:41 WIB
Editor : * | Penulis : rivo

PEKANBARU - Pagi itu, Sabtu, 8 Agustus 2026, matahari perlahan mulai meninggi. Cahayanya memantul di antara pepohonan dan rumah-rumah di sepanjang Jalan Serasi II, Kelurahan Tobek Godang, Kecamatan Tampan, Kota Pekanbaru.

Di ujung jalan, sebuah bangunan minimalis dengan cat putih berdiri kokoh di sisi kiri. Dari luar, terlihat tak ada yang terlalu mencolok. Namun, di balik dinding bangunan tersebut, ada cerita tentang keberanian, ketekunan, dan sebuah gagasan sederhana yang berhasil mengubah sesuatu yang selama ini dianggap tak bernilai menjadi produk bernilai ekonomi.

Namanya Melayu Crackers, atau lebih dikenal dengan Melakers. Produk yang dihasilkan sederhana jika hanya dilihat dari bentuknya, yakni keripik kulit ikan patin. Tetapi setiap kepingnya menyimpan cerita yang jauh lebih panjang daripada sekadar rasa gurih dan renyah.

Baca :

Sebab, sebelum menjelma menjadi produk dalam kemasan, kulit ikan itu terlebih dahulu berada di tepian rantai nilai perikanan. Ia adalah bagian yang tersisa setelah daging ikan diambil. Bagian yang bagi sebagian orang mungkin dianggap tak lagi bernilai.

Namun, di tangan Yulia Delsi, atau yang akrab disapa Una Ici, kulit itu memperoleh kesempatan kedua. Ia dibersihkan, diracik, diuji, digoreng, dikemas, lalu diberi identitas Melayu. Dari sesuatu yang hampir tak dilirik, lahirlah sebuah produk yang perlahan membawa nama Riau ke berbagai daerah, bahkan mulai mengetuk pintu pasar dunia.

*Semuanya Bermula dari Sebuah Pertanyaan

Setelah menunggu sekitar sepuluh menit, sosok yang dinanti akhirnya tiba.
Founder Melayu Crackers, Una (39), datang bersama sang suami. Senyum hangat langsung mengembang di wajahnya. Ia menyapa dengan ramah, lalu mempersilahkan kami masuk ke rumah produksi.

Di dalam, aktivitas pengolahan berjalan dengan tertib. Dengan mengenakan alat pelindung diri (APD), kami melihat langsung bagaimana kulit ikan patin diproses sebelum berubah menjadi keripik yang siap disantap dan digemari oleh para pecinta kuliner di Pekanbaru.

Di salah satu sudut ruangan depan, kemasan Melakers tersusun rapi di atas rak berbentuk huruf L. Kemasan itu tampak menarik dan penuh warna. Ada warna merah, kuning dan hijau. Itu semua bukan sekadar kemasan keripik, tetapi juga sebuah identitas Melayu, Riau.

Sambil duduk, wanita yang telah memiliki tiga orang anak ini perlahan membuka kembali lembaran perjalanan usahanya. Ingatan itu membawanya kembali ke 2018. Saat itu, Melakers belum memiliki rumah produksi. Belum dikenal banyak orang. Bahkan, Una sendiri tidak mengetahui sejauh mana usaha tersebut akan berkembang.

"Kalau bicara perjalanan, cukup panjang dan bisa dikatakan berdarah-darah. Awalnya kita mulai dari dapur rumah dengan mengandalkan kompor biasa, sembari mencari resep dan meracik bumbu yang cocok," ujar Una sambil tersenyum lirih, mengenang masa-masa awal merintis usaha.

Kalimat itu memang terdengar biasa. Tetapi di baliknya ada tahun-tahun yang tidak sederhana. Ada dapur rumah yang berubah menjadi laboratorium kecil, kemudian ada resep yang gagal, ada rasa yang belum sesuai, ada tekstur yang terlalu alot, ada bau amis yang belum hilang, dan ada seorang perempuan yang terus mencoba ketika orang lain mungkin sudah memilih berhenti.

*Menaklukkan Kulit yang Sulit Ditaklukkan

Kulit ikan patin bukanlah bahan yang mudah diolah. Ada lemak yang harus dibersihkan, kemudian ada aroma amis yang harus ditaklukkan, dan ada tekstur yang bisa menjadi alot apabila salah diperlakukan. Walau begitu, ada satu tujuan yang terus dikejar Una, yakni bagaimana membuat kulit ikan tersebut menjadi keripik yang benar-benar renyah, gurih dan disukai siapa saja.

Dapur rumah itu menjadi saksi konsistensi. Setiap kegagalan tak pernah benar-benar dianggap gagal, melainkan bagian dari perjalanan menemukan rasa.

Kurang renyah, dicoba lagi. Masih terasa amis, diperbaiki. Bumbu belum pas, diracik kembali. Suhu penggorengan tidak tepat, diuji lagi. Begitu seterusnya. Berkali-kali mencoba, memperbaiki, dan menguji, hingga akhirnya ditemukan perpaduan rasa, tekstur, bumbu yang dirasa paling tepat.

Bahkan Una tidak hanya mengandalkan pengalaman memasak. Ia membuka berbagai jurnal ilmiah tentang kulit ikan patin untuk memahami karakter bahan bakunya. Latar belakangnya sebagai mantan dosen pun ikut membantunya melihat persoalan secara lebih sistematis. Ada riset, ada pengujian, ada evaluasi, ada pencatatan dan ada formula yang diubah berkali-kali.

"Awalnya itu udah kayak bikin tesis," kenangnya dengan senyum tertersipu malu.

Setelah hampir setahun lamanya bereksperimen, mencoba berbagai racikan, Una akhirnya menemukan formula yang selama ini dicari. Perjalanan itu tidak singkat. Berkali-kali ia mengolah dan mengevaluasi rasa, sampai akhirnya menemukan resep yang sesuai dengan cita rasa Melakers seperti sekarang.

"Ada sekitar setahun baru saya menemukan resep seperti sekarang," ujarnya, menggambarkan panjangnya proses yang harus ia lalui untuk menemukan rasa yang benar-benar pas.

Sejak saat itu, kulit ikan patin seolah menemukan kehidupan barunya. Ia bukan lagi sekadar sisa dari proses pengolahan, apalagi bagian yang berakhir sebagai sesuatu yang terbuang. Di tangan Una, bagian yang selama ini dipandang sebelah mata itu justru menjelma menjadi produk bernilai, renyah, kaya cita rasa, dan memiliki daya jual.

*Dari Kulit Ikan Lahir Sebuah Peluang

Ide Melakers bermula dari sebuah pertanyaan sederhana. Saat itu, suami Una yang merupakan praktisi perikanan mendapat tawaran kulit ikan dari seorang kolega. Bukan daging yang selama ini menjadi bagian utama dalam pengolahan ikan, melainkan kulit yang tersisa setelah proses pemfiletan.

Melihat kulit ikan tersebut, muncul satu pertanyaan di benak Una, kulit ini mau diapakan?.

Bagi sebagian orang, jawabannya mungkin sederhana, dibuang. Namun, Una justru melihat sesuatu yang berbeda. Di balik bagian ikan yang kerap dianggap sisa, ia melihat peluang yang belum banyak digarap orang. Peluang itu semakin terbuka ketika melihat potensi ikan patin di Riau yang begitu besar. Kabupaten Kampar, khususnya Desa Koto Mesjid yang dikenal sebagai Kampung Patin, merupakan salah satu sentra produksi ikan patin terbesar di Indonesia.

Ditambah lagi Una juga mengetahui data Kementerian Kelautan dan Perikanan yang mencatat produksi ikan patin di Riau mencapai sekitar belasan ton per hari. Kebanyakan orang, mungkin melihat angka tersebut hanya sekadar statistik. Tetapi Una berbeda, ia melihat angka itu memiliki potensi yang jauh lebih besar.

"Melihat begitu besarnya potensi ikan patin di Riau, saya melihat ada peluang yang bisa dikembangkan. Mengapa tidak saya manfaatkan?," pikirnya.

Apalagi, kata Una, ketika ikan patin tersedia dalam jumlah melimpah, kulitnya tentu ikut tersedia dalam jumlah yang tak sedikit. Namun, masih ada persoalan lain, yaitu bagaimana mengubah sesuatu yang selama ini dipandang sebagai sisa menjadi produk yang memiliki nilai?.

Pertanyaan itulah yang akhirnya menumbuhkan keberanian untuk mencoba. "Kenapa tidak kita olah saja?," celetuk Una penuh rasa ingin tahu pada suaminya yang kemudian mendorongnya untuk melangkah dan mengubah potensi yang ada menjadi sebuah peluang usaha.

Kalimat sederhana tersebut menjadi titik awal perjalanan panjang Melakers, sebuah upaya untuk mengubah kulit ikan patin dari bagian yang terabaikan menjadi produk bernilai, sekaligus menghadirkan cita rasa khas Riau dalam bentuk yang berbeda.

*Melakers, Sepotong Cerita dari Tanah Melayu

Una kemudian melihat sesuatu yang lebih jauh dari sekadar ikan patin. Riau memang kaya dengan beragam olahan ikan patin. Ada asam pedas patin, patin panggang, hingga salai patin. Namun, sebagian besar sajian tersebut memiliki satu kesamaan, yakni untuk dinikmati di tempat.

Orang datang, mencicipi, lalu kembali pulang. Yang dibawa mungkin hanya jejak rasa di lidah, foto dalam kamera, dan cerita yang tersimpan dalam ingatan. Namun, Una ingin menghadirkan sesuatu yang berbeda.

Ia membayangkan, setiap orang yang datang ke Riau tidak hanya membawa pulang foto dan cerita tentang daerah ini, tetapi juga membawa sebuah rasa. Sesuatu yang dapat dinikmati kembali di rumah, dibagikan bersama keluarga, sekaligus menjadi pengingat bahwa pernah ada sebuah cerita yang mereka temukan di tanah Melayu.

Dari pemikiran itulah, gagasan menghadirkan keripik kulit ikan patin sebagai oleh-oleh mulai tumbuh. Menurut Una, keripik tersebut bukan sekadar camilan. Ia ingin menjadikannya sebagai buah tangan yang membawa identitas Riau. Karena itu, dipilihlah nama Melayu Crackers, yang kemudian disingkat menjadi Melakers.

Nama tersebut bukan sekadar penanda sebuah merek. Kata Melayu sengaja dipertahankan sebagai bagian dari identitas, agar produk yang lahir dari tanah Riau ini tetap memiliki akar budaya yang kuat. Identitas itu kemudian divisualkan ke dalam kemasan. Warna merah, kuning, dan hijau dipilih untuk menghadirkan nuansa khas Melayu.

Sementara pada bagian kemasan, terdapat ikon ikan yang mengenakan tanjak. Ikan menjadi representasi dari bahan utama produk, sementara tanjak membawa simbol budaya Melayu. Keduanya dipertemukan dalam satu visual, membentuk identitas yang sederhana, namun sarat makna.

"Kata ‘Melayu’ sengaja kami pertahankan karena saya ingin produk ini tidak pernah kehilangan akar dari tanah tempat ia dilahirkan. Identitas itu kami hadirkan melalui kemasan, lewat perpaduan merah, kuning, dan hijau yang lekat dengan nuansa Melayu, serta ditambah dengan ikon ikan bertanjak yang merepresentasikan bahan utama produk," sebut Una menjelaskan.

Seolah setiap bungkus Melakers ingin menyampaikan pesan kepada siapa pun yang membawanya pulang. Ini bukan sekadar keripik. Ini adalah sepotong rasa, identitas, dan cerita dari Riau.

*Ketika Orang Enggan Mencoba

Membuat produk hanyalah separuh dari perjuangan. Separuh lainnya adalah membuat orang mau mencicipinya. Pada 2018, keripik kulit ikan patin masih terdengar asing.

Bahkan kata "kulit ikan" sendiri bisa membuat orang membayangkan sesuatu yang amis, berlendir atau alot.

Una mengalaminya sendiri waktu turun ke Car Free Day untukmenawarkan produknya."Silahkan, bapak-ibu, kulit ikannya." Namun, tak sedikit yang menolak.

Ada yang langsung mundur, dan ada pula yang belum mau mencoba karena sudah lebih dahulu membayangkan rasanya. Tetapi Una tidak menyerah begitu saja. Bahkan ia menyadari bahwa mungkin bukan produknya yang harus diubah, tetapi cara memperkenalkannya yang perlu diganti.

Pekan berikutnya, ia mencoba dengan sebutan lain. "Silahkan, bapak-ibu, Fish Skinnya." Dengan sebutan itu, orang-orang mulai bertanya. "Apa itu Fish Skin?". Rasa penasaranpun membuat mereka mencoba.

Setelah mencicipi, barulah Una menjelaskan bahwa Fish Skin tersebut merupakan keripik kulit ikan patin. Dari situlah ia belajar satu hal penting,kadang, orang tidak menolak sesuatu karena tidak menyukainya, hanya saja mereka belum mengenalnya.

Pengalaman itu kemudian melahirkan tagline yang hingga kini menjadi bagian dari Melakers, "coba sekali, tak nak berhenti".

Tagline tersebut bukan lahir dari ruang rapat konsultan pemasaran, melainkan dari perjalanan yang penuh tantangan, penolakan, keraguan, hingga keberanian untuk terus melangkah. Ia lahir dari jalanan, ketika seorang perempuan dengan penuh keyakinan menawarkan produk yang belum dikenal kepada orang-orang yang bahkan belum bersedia mendengar tentang bahan bakunya.

Dari penolakan itulah, keyakinan tumbuh, dan sebuah cerita tentang Melakers dimulai.

*Dari Kompor Rp700 Ribu Menuju Rumah Produksi

Melakers tumbuh perlahan. Pada awalnya, produksi dilakukan dari dapur rumah. Kompor biasa menjadi alat utama, modal pun sangat terbatas. Saat itu, Una dan suaminya juga tengah berjuang membeli rumah dan memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Mereka bahkan pernah merasa berat membeli kompor seharga sekitar Rp700 ribu. "Waktu itu kami memang benar-benar kesulitan. Bahkan untuk beli kompor seharga Rp700 ribu aja terasa berat. Akan tetapi kami tetap memberanikan diri," kenangnya dengan mata yang sedikit berkaca-kaca.

Setiap rupiah dihitung. Setiap hasil penjualan dikumpulkan kembali, dua kompor akhirnya berhasil dibeli, dapur direnovasi, produksi bertambah. Tetapi ketika permintaan semakin meningkat, rumah pun perlahan berubah menjadi tempat produksi.

Asap memenuhi ruangan, aktivitas pengolahan bercampur dengan kehidupan keluarga. Bahkan anak-anak harus lebih banyak berada di tempat penitipan agar tidak terlalu terdampak aktivitas produksi.

Una sadar, keadaan tersebut tidak mungkin berlangsung selamanya. Mereka kemudian menyewa sebuah rumah di kawasan perumahan dan menjadikannya tempat produksi. Pekerja mulai direkrut, peralatan bertambah, produksi meningkat.

Namun persoalan baru muncul, yakni limbah pengolahan ikan membuat lingkungan tempat tinggal tidak lagi ideal untuk kegiatan produksi. Karena saluran air kerap tersumbat, dan pembersihan harus dilakukan berulang. Di tengah keadaan itu, Una kembali memanjatkan doa. "Ya Allah, cukupkanlah uang untuk kami mencari tanah,". Do'a itu perlahan menemukan jalannya.

Sekitar 2021 hingga 2022, mereka mulai membeli lahan untuk membangun rumah produksi yang saat ini ditempati (Jl.Serasi II). Pandemi masih menjadi bagian dari kehidupan, bangunan tidak langsung berdiri megah. Ia dibangun sedikit demi sedikit, dari hasil usaha, dari uang yang dikumpulkan, dari cicilan, dan dari keberanian mengambil keputusan.

Hingga akhirnya, awal 2025, rumah produksi tersebut berdiri dan mulai ditempati. "Ya, rumah produksi ini baru ditempati awal tahun 2025," katanya menjelaskan.

Dapur yang dahulu dipenuhi asap kini berubah menjadi ruang produksi yang jauh lebih bagus dan tertata. Walau begitu, Una tidak pernah melupakan dari mana semuanya bermula. Dari kompor sederhana, dari modal terbatas, dan dari keberanian untuk memulai.

*Tujuh Kilogram Ikan untuk 100 Gram Keripik

Di balik satu kemasan Melakers, terdapat proses panjang yang mungkin tidak pernah terlihat oleh konsumen. Untuk menghasilkan sekitar seratus gram keripik kulit ikan patin, dibutuhkan sekitar tujuh kilogram ikan patin.

Kulit hanya bagian kecil dari tubuh ikan. Dari satu ton ikan patin, kulit yang diperoleh maksimal sekitar lima persen. Kulit tersebut kemudian harus dibersihkan, lemak dipisahkan, kemudian bobot kembali menyusut. Setelah itu baru masuk proses marinasi dan pengolahan, dan penyusutan kembali terjadi.

Karena itulah, ketika konsumen melihat satu kantong Melakers di rak toko, sesungguhnya mereka sedang melihat ujung dari perjalanan yang panjang. Di baliknya ada pembudi daya ikan.

Ada pengusaha filet, ada pekerja yang membersihkan kulit, ada proses marinasi, ada penggorengan, ada pengemasan, dan ada distribusi.

Dari sini kita baru mengetahui, bahwa dari satu keping keripik ternyata membawa rantai ekonomi yang begitu panjang.

*Ketika Ekonomi Berputar dari Bagian yang Tersisa

Bahan baku Melakers terutama berasal dari Kampar dan Pekanbaru. Una menjalin kerjasama dengan para pengusaha filet, termasuk di kawasan Kampung Patin, Kampar. Hubungannya sederhana. Pengusaha filet membutuhkan daging, Melakers membutuhkan kulit.

Dari hubungan sederhana itu, tercipta sebuah rantai nilai baru. Kulit yang sebelumnya kurang dimanfaatkan kini mulai memiliki harga, dan pengusaha filet memperoleh nilai tambah.

Melakers mendapatkan bahan baku. Para pekerja memperoleh penghasilan. Masyarakat pun mendapatkan pilihan produk baru yang bernilai. Di situlah gagasan ekonomi sirkular hadir dalam bentuk yang sederhana, tetapi bermakna. Sesuatu yang semula nyaris terbuang, justru diolah menjadi sumber nilai bagi banyak pihak.

Sebab, ekonomi sirkular tak selalu lahir dari gagasan besar. Terkadang, ia bermula dari sesuatu yang sederhana, dari bagian yang dianggap tak bernilai, kemudian diolah dengan ketekunan hingga menjadi sesuatu yang bernilai.

*Setiap Suhu dan Gram Sangat Berarti

Semakin besar usaha, semakin besar pula tanggung jawab menjaga kualitas.
Una tidak ingin rasa Melakers berubah hanya karena siapa yang sedang menggoreng. Karena itu, standar produksi mulai diperketat.

Kulit ikan yang datang dalam kondisi beku diperiksa suhunya, standar penerimaan berada di sekitar minus 18 derajat celsius, kulit kemudian dibersihkan, lemak yang masih menempel harus dipisahkan, setelah itu masuk proses marinasi.

Pada tahap penggorengan, suhu minyak harus diukur. Waktu penggorengan memiliki standar, takaran bumbu tidak lagi berdasarkan perkiraan. Semuanya ditimbang,
alat ukur dikalibrasi, legalitas dan standarisasi yang dahulu mungkin terasa rumit justru menjadi sistem untuk menjaga kepercayaan konsumen.

"Untuk takaran bumbu semuanya kita timbang, tidak ada yang diperkirakan. Begitu juga saat penggorengan, ada standarnya," sebutnya menjelaskan.

Bagi Una, standar bukan sekadar urusan administrasi. Standar adalah cara memastikan bahwa rasa yang dibeli konsumen hari ini tetap sama ketika mereka membeli lagi esok hari.

*Tiga Rasa, Satu Akar

Saat ini Melakers memiliki tiga varian rasa, original, balado dan barbeque.
Original menghadirkan rasa gurih dengan sentuhan bawang putih dan ketumbar. Balado menyasar penyuka cita rasa berbumbu. Sementara Barbeque memberikan sensasi gurih dengan aroma khas panggang.

Warna kemasan setiap varian pun dibuat berbeda. Original kuning, balado merah, dan barbeque hijau. Warna hijau untuk Barbeque mungkin terdengar tidak biasa. Namun, justru di situlah Una mempertahankan identitas Riau. Ia tidak ingin produk modern kehilangan akar budayanya.

Melakers juga berbeda karena dibuat dari kulit ikan patin tanpa tambahan tepung. Una menyebut kandungan proteinnya sekitar 15 persen dengan karbohidrat yang relatif rendah. Ia tidak ingin berlebihan menyebut produknya sebagai camilan sehat.

Baginya, rasa tetap menjadi pintu pertama. Sebab, sebaik apa pun kandungan sebuah produk, jika rasanya tidak disukai, ia tidak akan bertahan.

*Oleh-Oleh yang Membawa Pulang Rasa Riau

Melakers kemudian tumbuh bersama ekosistem oleh-oleh di Pekanbaru. Salah satu mitra yang ikut menjadi bagian dari perjalanan tersebut adalah Viera oleh-oleh. Sejak awal berdiri, Melakers telah bekerja sama dengan gerai tersebut.

Konsepnya sederhana, jika ada oleh-oleh manis, Melakers hadir membawa rasa gurih. Dan jika ada buah tangan yang hanya mengenyangkan, Melakers ingin membawa cerita.

Untuk harga produk Melakers, saat ini berada di kisaran Rp26 ribu hingga Rp41 ribu, tergantung ukuran dan kemasan. Ada pula paket oleh-oleh dengan kemasan 100 gram yang berisi enam produk dan dapat diperoleh sekitar Rp220 ribu, termasuk dus.

Untuk konsumen yang ingin membawa banyak buah tangan dengan ruang bagasi terbatas, tersedia pula kemasan kecil sekitar Rp10 ribu. Walau kecil bentuknya, namun besar ceritanya.

Kini, perjalanan Melakers tidak lagi berhenti di Pekanbaru. Pengiriman telah menjangkau berbagai daerah di Indonesia. Malaysia menjadi salah satu negara yang pernah menerima pengiriman.

Selain itu, Melakers juga terus memperkuat kesiapan untuk menembus pasar global dengan melengkapi berbagai standar dan perizinan, termasuk SKP, SNI, BPOM dan HACCP. Bahkan berbagai misi dagang nasional pun diikuti.

Tidak itu saja, business matching bersama Badan Standarisasi Nasional (BSN) juga dilakukan. Peluang pasar mulai terbuka ke Serbia, Maladewa dan Hong Kong, walau belum semuanya berujung pada pengiriman. Akan tetapi bagi usaha yang dahulu dimulai dari dapur rumah, terbukanya pintu-pintu tersebut sudah merupakan pencapaian tersendiri.

Una dan tim pun mulai belajar bahwa ekspor bukan sekadar mengirim barang ke luar negeri. Ekspor berarti memahami standar, memahami selera, memahami ukuran kemasan, dan memahami karakter konsumen. Misalnya di Hongkong, kemasan 50 gram lebih diminati karena praktis dikonsumsi per orang. Pasar lain bisa saja membutuhkan ukuran berbeda.

Kini Melakers sedang belajar. Dalam proses belajar itu, Una berusaha memegang satu prinsip, yakni "boleh pergi sejauh mungkin, tetapi jangan sampai kehilangan akar".

*Dosen yang Memilih Dapur

Di balik sosok pengusaha itu, ada perjalanan akademik yang juga menarik. Sebelumnya, Una pernah menjadi dosen di UIN Suska Riau. Ketika masih mengajar, Melakers sebenarnya sudah mulai berjalan. Statusnya sebagai dosen luar biasa membuatnya masih memiliki ruang untuk mengurus usaha.

Namun, Melakers terus berkembang, produksi meningkat, tanggung jawab bertambah. Hingga pada tahun 2022, ketika sedang mengandung anak ketiganya, Una memutuskan berhenti mengajar dan fokus pada usahanya.

Keputusan itu tidak mudah. Sebab, ia tidak hanya ingin menjadi pengusaha. Ia ingin tetap menjadi istri, tetap menjadi ibu, tetap menjadi anak, dan tetap membangun sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain. Saat ini,  sekitar 10 orang karyawan menjadi bagian dari Melakers. Bagi Una, mereka bukan sekadar karyawan, tetapi mereka adalah tim dan keluarga.

"Tanpa bantuan yang lain, saya tidak mungkin bisa menjalankan usaha ini sendiri. Karena saya bukan Superman, tapi kami super tim," ucapnya tersenyum, tetapi di situlah cara Una memandang keberhasilan.

Ia tidak ingin kesuksesan Melakers hanya melekat pada namanya seorang. Karena, tanpa orang yang membersihkan kulit, menggoreng, mengemas, produksi, usahanya tidak akan berjalan seperti sekarang.

Jadi semua memiliki peran, dan saling membutuhkan. Dan ketika usaha tumbuh, mereka harus tumbuh bersama.

*Melakers, Ruang Mencari Rezeki dan Mendekatkan Diri ke Pencipta

Di balik aktivitas produksi Melakers, ada satu hal lain yang tak kalah menarik. Bagi Una, rumah produksi bukan sekadar tempat untuk bekerja dan menghasilkan produk. Lebih dari itu, ia ingin menjadikannya sebagai ruang untuk mencari rezeki sekaligus mendekatkan diri kepada Tuhan.

Karena itu, para pekerja tidak hanya diberi ruang untuk bekerja, tetapi juga kesempatan untuk beribadah. Setiap pagi sebelum memulai aktivitas, mereka dianjurkan untuk mengaji dan melaksanakan salat dhuha.

Bagi Una, bekerja bukan semata tentang mengejar hasil. Ada keberkahan yang ingin ditumbuhkan di dalamnya. Karena dibalik setiap rezeki yang diperoleh sebaiknya berjalan beriringan dengan rasa syukur dan kedekatan kepada Tuhan.

"Pagi sebelum mulai bekerja itu kita menganjurkan semua karyawan untuk mengaji dan salat dhuha terlebih dahulu," tuturnya, mengajarkan kita bahwa setiap rezeki yang kita dapat ada campur tangan Tuhan.

Bagi Una, gaji mungkin habis dalam satu bulan, tetapi kehidupan tidak berhenti pada angka gaji. Ada sesuatu yang lebih panjang yang akan dibawa manusia setelah semua pekerjaan selesai. Karena itu, ia ingin menanamkan kebiasaan sederhana, bekerja, beribadah, berdoa, dan saling menjaga.

Ketika penjualan turun, ia tidak hanya meminta tim bekerja lebih keras.
Mereka juga diajak berdoa. Sebab, tidak ada yang tahu doa siapa yang akan lebih dahulu menemukan jalan menuju langit.

Di situlah Una ingin menumbuhkan rasa memiliki. Melakers bukan milik satu orang, melainkan usaha bersama.

*Keberanian yang Tumbuh dari Rasa Takut

Una pernah berada pada fase ketika berutang adalah sesuatu yang begitu ia takuti. Pada masa-masa awal merintis usaha, kondisi keuangan mereka masih sangat terbatas. Sebab, untuk membeli sebuah kompor saja terasa seperti pengeluaran yang harus dipikirkan matang-matang.

Namun, perjalanan Melakers perlahan mengubah cara pandangnya. Ia belajar bahwa keberanian bukanlah tentang hidup tanpa rasa takut. Keberanian justru lahir ketika seseorang memilih untuk tetap melangkah, meski rasa takut masih menyertai setiap langkahnya.

Dan dari sanalah Una belajar, terkadang, keberanian bukan tentang seberapa besar keyakinan yang kita miliki, melainkan seberapa kuat kita bertahan untuk terus berjalan ketika keraguan belum sepenuhnya pergi.

Hasil penjualan dikumpulkan sedikit demi sedikit. Dari sana, Una mulai membeli peralatan, menyewa tempat, merekrut pekerja, hingga membeli tanah dan membangun rumah produksi. Legalitas dilengkapi, kapasitas produksi ditingkatkan, dan perlahan Melakers memiliki fondasi yang semakin kokoh.

Kini, Melakers mampu memproduksi sekitar 700 kemasan per hari. Kapasitas itu bahkan masih terbuka untuk terus ditingkatkan. Pencapaian tersebut bukan berarti seluruh persoalan telah selesai. Justru sebaliknya, ia menandai babak baru dalam perjalanan Melakers.

"Saat ini, kita memproduksi sekitar 700 kemasan per hari," ucap Una menerangkan.

Tantangannya kini bukan lagi sekadar bagaimana membuat produk, melainkan bagaimana membuat produk itu menemukan pasar yang lebih luas.

Rumah produksi telah berdiri. Peralatan semakin memadai. Legalitas telah lengkap. Kapasitas produksi pun siap ditingkatkan. Maka, pertanyaan berikutnya menjadi jauh lebih besar, bagaimana membuat Melakers semakin dikenal?.

Sebab hingga kini, penjualan secara offline masih menjadi penopang utama. Sementara kontribusi marketplace dan media sosial seperti Shopee, TikTok, dan Instagram masih relatif kecil, maksimal sekitar 20 persen dari total penjualan.

Padahal, dunia digital bukanlah sesuatu yang baru bagi Melakers. Shopee dan Instagram telah dimanfaatkan sejak tahun 2018. Pembayaran melalui QRIS pun telah menjadi bagian dari aktivitas transaksi.

Bagi Una, digitalisasi merupakan bagian yang tak terpisahkan dari perubahan zaman. Terlebih, kini semakin banyak konsumen, terutama para generasi muda, yang terbiasa melakukan transaksi secara praktis dan tanpa uang tunai.

"Sejauh ini, penjualan offline masih menjadi penopang utama bisnis kami. Kontribusi marketplace dan media sosial seperti Shopee, TikTok, dan Instagram memang belum besar, maksimal sekitar 20 persen dari total penjualan. Namun, bukan berarti kami mengabaikan perkembangan digital. Sejak 2018, Shopee dan Instagram sudah kami manfaatkan untuk menjangkau konsumen, sementara QRIS juga telah menjadi bagian dari transaksi sehari-hari," bebernya.

Kini, langkah berikutnya mulai disiapkan. Memperluas pasar, memperkuat penjualan, hingga membuka peluang untuk menembus pasar ekspor. Namun, di tengah ambisi untuk tumbuh lebih besar, ada satu hal yang tidak ingin dilepaskan Una, yaitu identitas.

Baginya, pertumbuhan tidak semata-mata tentang seberapa tinggi sebuah usaha dapat berdiri, tetapi juga tentang seberapa kuat ia menjaga akar yang membuatnya tumbuh.

Sebab sebuah produk boleh melangkah jauh, menembus pasar yang lebih luas, bahkan hingga ke luar negeri. Tetapi, jangan sampai dalam perjalanan menuju puncak, ia kehilangan jati diri yang sejak awal menjadi alasan untuk tumbuh.

**Menemukan Nilai dari Yang Terlupakan

Saat ini, produk Melakers memiliki masa simpan sekitar enam bulan. Namun, penelitian dan pengembangan terus dilakukan untuk memperpanjang hingga satu tahun atau bahkan lebih.

Bukan karena produknya tidak laku. Justru sebaliknya. Una kerap mendapat gurauan dari para konsumen. "Katanya tahan enam bulan, tetapi lima menit sudah habis," katanya sambil tertawa menceritakan gurauan konsumen.

Gurauan itu terdengar sederhana. Namun, bagi Una, ada kebahagiaan yang sukar dilukiskan ketika produk yang lahir dari begitu banyak perjuangan benar-benar dinikmati orang. Sebab pada akhirnya, sebuah produk memang tidak sekadar dibuat untuk dijual. Ia dibuat untuk dinikmati, disukai, dan meninggalkan kesan.

Kini, ketika menoleh ke belakang, sulit membayangkan perjalanan Melakers bermula dari sesuatu yang nyaris tak diperhitungkan, kulit ikan yang tersisa setelah proses pengolahan. Dulu, ia hanya bagian yang tertinggal. Kini, ia memiliki nilai. Dulu, ia dianggap tak berarti. Kini, ia mampu menghidupi sebuah usaha.

Bagi sebagian orang, Melakers mungkin hanya sekantong keripik. Namun bagi Una, setiap kemasan menyimpan perjalanan yang panjang. Di dalamnya ada asap dapur, nyala kompor sederhana, resep yang berkali-kali gagal, rumah yang perlahan berubah menjadi ruang produksi, cicilan yang harus dibayar, rasa takut yang harus ditaklukkan, keberanian untuk mengambil keputusan, dan doa yang terus dipanjatkan.

Ada pula keputusan meninggalkan profesi sebagai dosen. Ada perjuangan menjalani peran sebagai ibu sekaligus pengusaha. Dan ada sebuah tim yang tumbuh, bekerja, serta bertahan bersama. Itu semua dirangkum dalam satu kemasan.

Mungkin suatu hari nanti, kemasan merah, kuning, dan hijau Melakers benar-benar berdiri di rak-rak toko di luar negeri. Orang-orang di sana mungkin tidak pernah tahu bagaimana semuanya bermula. Mereka mungkin hanya mengambil sebuah kemasan, membukanya, lalu menikmati bunyi renyah ketika keping pertama patah di antara gigitan.

Mereka mungkin tidak tahu bahwa sebelum menjadi keripik, bahan itu pernah dianggap sekadar sisa. Mereka mungkin tidak tahu bahwa untuk menghasilkan sekitar 100 gram keripik, dibutuhkan sekitar tujuh kilogram ikan. Mereka mungkin juga tidak tahu bahwa pernah ada seorang perempuan berdiri di Car Free Day, menawarkan produknya kepada orang-orang yang bahkan enggan mendengar dua kata, "kulit ikan".

Namun, mungkin memang begitulah sebuah cerita bekerja. Tidak semua perjuangan harus terlihat. Tidak semua air mata harus diceritakan. Kadang, sebuah perjalanan panjang cukup dikenalkan melalui satu keping keripik.

Dan ketika keripik itu renyah di lidah, mungkin yang sebenarnya sedang dinikmati bukan hanya gurihnya kulit ikan. Ada sepotong cerita tentang Riau di dalamnya. Tentang tanah yang kaya potensi. Tentang seorang perempuan yang memilih untuk percaya. Tentang sebuah usaha yang tumbuh dari dapur sederhana. Tentang sesuatu yang pernah dipandang tak berguna, tetapi kemudian menemukan nilainya di tangan yang tepat.

Dari Una, kita belajar bahwa peluang tidak selalu datang dalam bentuk yang indah. Kadang, ia hadir sebagai sesuatu yang tersisa.

Dari sanalah lahir sebuah cerita baru tentang Riau. Sebuah pengingat bahwa potensi tidak akan berarti apa-apa jika hanya dibiarkan. Ia harus disentuh keberanian, dikerjakan dengan ketekunan, dijaga dengan standar, diperkuat dengan doa, lalu dibawa sejauh mungkin tanpa pernah kehilangan akar.

*Kampar, Sentra Patin yang Menggerakkan Ekonomi Riau

Kabupaten Kampar, Riau, terus mengukuhkan diri sebagai salah satu sentra budidaya ikan patin terkemuka di Indonesia. Komoditas air tawar ini bukan sekadar menjadi sumber pangan bergizi, tetapi juga telah tumbuh menjadi penggerak ekonomi masyarakat sekaligus identitas unggulan daerah.

Salah satu denyut utama industri patin Kampar berada di Desa Koto Mesjid, Kecamatan XIII Koto Kampar. Desa yang dikenal sebagai Kampung Patin itu menjadi kawasan budidaya yang berkembang pesat sejak masyarakat mulai membudidayakan ikan patin pada 2002.

Berdasarkan data Dinas Perikanan Kabupaten Kampar, Kampung Patin di Desa Koto Mesjid memiliki luas kolam budidaya lebih dari 150 hektare. Kawasan ini mampu menghasilkan sekitar 12–15 ton ikan patin setiap hari atau jika diakumulasikan, mencapai sekitar 300 ton lebih per bulan. Skala produksi tersebut menjadikan Koto Mesjid sebagai salah satu kawasan budidaya ikan air tawar yang penting di Sumatera.

Perjalanan panjang budidaya patin di Kampar juga diiringi penerapan teknologi dan inovasi. Salah satunya melalui teknologi pembuahan buatan yang membantu meningkatkan keberhasilan produksi sekaligus menjaga kualitas benih.

Dari total produksi ikan patin yang mencapai sekitar 300 ton per bulan, sebanyak 80 persen di antaranya diarahkan untuk kebutuhan pengolahan, terutama menjadi ikan salai atau ikan asap. Sementara itu, sekitar 20 persen lainnya dipasarkan dalam bentuk ikan patin segar.

Strategi pengolahan tersebut membuka ruang ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat. Patin yang sebelumnya hanya memiliki nilai jual sebagai komoditas segar, dapat menghasilkan nilai tambah setelah melalui proses pengolahan.

Di tingkat petani, harga patin segar berada di kisaran Rp16.500 per kilogram. Sementara itu, ikan salai dapat menembus Rp70.000 - Rp80.000 per kilogram.

Selisih harga tersebut memperlihatkan besarnya potensi nilai tambah dari hilirisasi. Patin tidak lagi sekadar dibudidayakan dan dijual, tetapi diolah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.*

Penulis: wartawan Metro Riau

Terbaru
Artikel Popular
1
politik
hukum
Nasional
BMKG Ungkap Pemicu Gempa M7,7 yang Guncang...
Sabtu, 15 Agustus 2026 | 14:31:06 WIB