|
METRORIAU.COM
|
![]() |
|
||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||

PEKANBARU - Rena Idawati tampak begitu telaten mengoperasikan mesin jahit. Matanya jeli melihat gerakan jarum di ujung mesin yang bergerak cepat menjahit potongan-potongan kain. Baginya, bisa bekerja di Rumah Jahit Lestari berasa menemukan kembali arti sebuah kesempatan.
"Alhamdulillah, saya sangat bersyukur. Di usia segini, masih diberi kesempatan untuk bekerja dan belajar. Di sini saya diajarkan menjahit, sesuatu yang dulu tidak pernah saya bayangkan bisa saya lakukan," ucapnya dengan mata berbinar, Rabu (24/9/2025).
Dua tahun lalu, Rena hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa, yang kesehariannya diisi dengan mengurus keluarga dan tiga orang anak di kediamannya yang tak jauh dari kawasan Mandau City, Duri. Tak pernah terbayangkan sebelumnya, bahwa langkahnya akan membawanya menuju ruang penuh cahaya di Rumah Jahit Lestari (RJL).
Menurut wanita yang berusia 45 tahun itu, RJL bukan sekadar tempat bekerja, melainkan ruang belajar yang membuka cakrawala baru. Dari sekadar benang dan jarum, ia merenda pengalaman berharga yang tak ternilai. Setiap jahitan yang ia hasilkan bukan hanya pakaian, melainkan juga kisah perjuangan dan semangat hidup seorang perempuan yang ingin terus bertumbuh.
Kini, selain membantu menambah penghasilan keluarga, Rena merasa hidupnya lebih bermakna. "Selain bisa menopang ekonomi keluarga, saya juga banyak mendapatkan pengalaman dan ilmu yang tak pernah saya dapatkan di luar. Alhamdulillah, semua ini benar-benar anugerah," tuturnya dengan suara bergetar, penuh rasa haru.

Perjalanan Rena Idawati adalah cermin bahwa tak pernah ada kata terlambat untuk belajar dan berkarya. Dengan hati yang ikhlas dan tekad yang kuat, seorang ibu rumah tangga pun mampu menjahit harapan, bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk masa depan keluarganya. Bahkan kualitas jahitannya, boleh di uji. Tak kalah dengan produk luar.
Menurut Owner Rumah Jahit Lestari, Suci Sustari, tekad yang kuat dan kemauan untuk belajar dari Rena sudah cukup menjadi modal baginya untuk bisa mengembangkan diri. Sebab di Rumah Jahit Lestari inilah Rena diberikan pelatihan menjahit. Hal ini juga berlaku untuk seluruh karyawannya yang lain.
"Mulai dari nol. Saya tak pernah memandang seseorang dari kondisi fisik, usia, ataupun dia siapa. Mau dia cacat, atau sempurna itu bukan ukuran. Yang penting dia punya semangat untuk belajar, itu sudah lebih dari cukup bagi saya," tutur Suci.
Rumah Jahit Lestari merupakan sebuah usaha kecil yang tak hanya berorientasi pada keuntungan semata, melainkan menjadi rumah harapan bagi banyak orang. Pasalnya, Rena merupakan salah satu dari sekian banyak ibu-ibu rumah tangga yang dipekerjakan Suci di RJL.
Hal inilah yang membuatnya istimewa, karena bukan sekadar hasil jahitan, melainkan banyak kisah-kisah kehidupan yang dirajut di dalamnya. Di saat sebagian besar usaha menutup pintu rapat-rapat untuk ibu-ibu rumah tangga yang sudah berusia lanjut, RJL justru membuka ruang seluas-luasnya. Bahkan sebelumnya tahun 2024, RJL juga ada menerima pekerja disabilitas bernama Juari (27). Yang akhirnya didorong Suci untuk mandiri.
Bagi para pekerja, kesempatan ini lebih dari sekadar pekerjaan. Ini adalah jembatan menuju mimpi. Di balik bunyi mesin jahit yang berulang, ada rasa percaya diri yang kembali tumbuh, ada harga diri yang kembali utuh, dan ada senyum yang kembali mekar.
Perjuangan Suci Membangun Rumah Jahit Lestari
Awalnya, Suci Sustari tak memiliki latar belakang di bidang konveksi. Dulunya, dia adalah seorang dosen di Universitas Bina Dharma, Palembang.
Perjuangan Suci membangun Rumah Jahit Lestari di Jalan Hangtuah, Kecamatan Bhatin Solapan, Kota Duri, Kabupaten Bengkalis, Riau ini, patut menjadi contoh. Perjalanannya membangun dan mengembangkan usaha ini diterpa berbagai rintangan. Dan tak semudah yang dibayangkan.
Sejak tahun 2019, Suci punya mimpi memiliki sebuah usaha produksi pakaian. Ia sudah menghabiskan banyak waktu dan biaya untuk belajar. Namun keterbatasan biaya membuat cita-citanya itu belum juga terwujud.
Suci berinisiatif untuk mengajukan bantuan ke PT Chevron Pasifik Indonesia (kini PT Pertamina Hulu Rokan). Namun selalu ditolak. Perusahaan punya pengalaman buruk dalam memberikan bantuan CSR, karena pihak penerima seringkali kedapatan gagal dalam mengelola usahanya.
Namun, Suci tak patah arang. Ibarat kata pepatah, usaha tak pernah menghianati hasil. PHR menyatakan ketertarikannya untuk menjalin kerja sama dengan Suci sehingga berdirilah Rumah Jahit Lestari, per tanggal 27 Mei tahun 2021.
Awalnya Suci mendapat bantuan sebanyak lima mesin jahit portable. Dari sana mulailah ia merekrut ibu-ibu rumah tangga yang bisa menjahit disekitaran tempat tinggalnya untuk bekerja.
Seiring berjalannya waktu, usaha Rumah Jahit Lestari mulai membuahkan hasil. Insting bisnis Suci bermain. Bahkan dia membeli tujuh unit mesin jahit lagi sesuai kebutuhan. Jumlah karyawannya pun bertambah, seiring dengan meningkatnya pesanan customer. "Saat ini kami sudah punya 55 unit mesin jahit konfeksi. Jumlah tersebut sudah termasuk mesin bantuan dari PHR maupun hasil pembelian saya pribadi," katanya.
Pada Agustus 2024, PHR memberikan 1 unit mesin jahit dua jarum dan 1 unit mesin jahit tiga jarum kepada Rumah Jahit Lestari. Di kesempatan yang sama, PHR juga menyelenggarakan sertifikasi penjahit bagi 10 orang melalui Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).
"Dengan adanya bantuan mesin jahit tiga jarum dari PHR tersebut, kini para penjahit di RJL lebih mudah dalam menjahit baju wearpack. Karna wearpack itu memang membutuhkan jahitan tiga garis sejajar. Dahulu, sebelum ada mesin ini, penjahit harus menjahit berulang hingga tiga kali," ucapnya mengingat masa lalu sambil tersenyum.
Membuka Lapangan Kerja bagi Warga Sekitar
Berkembangnya Rumah Jahit Lestari, tak hanya berdampak terhadap kondisi finansial Suci, tapi membuka lapangan kerja baru, khususnya bagi masyarakat sekitar. Saat ini total karyawannya berjumlah 86 orang. Sebanyak 30 orang marketing, dan 56 orang penjahit, dengan gaji bervariasi.
Buah hasil dari jerih payah itu kini sudah dapat ia nikmati. Bagaimana tidak. Dengan harga satu set baju Wearpack Rp600 ribu, dalam sebulan, Rumah Jahit Lestari bisa meraup omzet sekitar Rp900-Rp1,1 milliar. Tentunya ini sebuah pencapaian yang fantastis.
"Saya bersyukur, bisa memiliki rumah jahit ini. Kalau bicara awal mulanya untuk mendirikan usaha ini sangat panjang dan berdarah-darah. Karena awal saya kesini (Duri) pada tahun 2019 saya tidak punya modal dan tidak memiliki pekerjaan. Dari sanalah saya mencoba untuk mengajukan bantuan ke PHR," ungkap wanita yang kini berusia 45 tahun itu.
Kunci keberhasilan dari usaha yang ia bangun, adalah bertanggung jawab terhadap amanah yang dipercayakan kepadanya. Awal mula menerima bantuan mesin jahit dari PHR, Suci bahkan sangat awam dengan dunia konveksi. Namun, amanah harus diemban dengan tanggung jawab penuh.
"Saya belajar menjahit siang malam. Lewat Youtube, bertanya ke siapapun. Sampai saya migren dan vertigo karena belajarnya dipaksain, dan karena pengaruh usia juga," sambungnya.
Meski awam dengan jahit menjahit, Suci melihat ada peluang usaha menjanjikan di bidang ini. Apalagi di Kota Duri, ada banyak perusahaan yang memerlukan pakaian safety atau wearpack. Sementara pihak perusahaan sering mengorder pakaian itu ke luar daerah. Peluang inilah yang ia tangkap.
Suci punya cerita menarik. Awal-awal membangun Rumah Jahit Lestari, ia belum memproduksi pakaian wearpack, melainkan seragam kerja karyawan. Salah satu kendala yang dihadapinya yakni dari sisi marketing.
Layaknya usaha konveksi, model menjadi salah satu yang menentukan dalam pemasaran. Namun, ia belum bisa menyewa model profesional untuk produknya. "Akhirnya, saya jadikan anak dan suami saya sebagai model," tuturnya sambil tertawa.
Kerja Keras Tak Mengkhianati Hasil
Sampai pada suatu ketika, Rumah Jahit Lestari mendapat orderan pertama, yakni membuat pakaian karyawan sebanyak 42 pieces dari PT Asia Petrocom Service (APS).
Sebagai orang baru dan minim pengalaman, Suci sempat gelabakan. Bagaimana mungkin dengan skil dan ternaga terbatas, bisa menyelesaikan orderan itu dengan tepat waktu.
Tapi, bukan Suci namanya jika pikirannya kandas. "Saat itu saya tak kehabisan akal. Saya berdayakan ibu-ibu sekitar yang bisa menjahit dan saya bebaskan mereka bekerja di rumah masing-masing," tutur wanita lulusan Universitas Sriwijaya tahun 2001 tersebut. Sejak saat itulah, produk dari Rumah Jahit Lestari mulai dikenal secara luas.
Strategi marketingnya cukup unik, yakni memanfaatkan kenalan suami dan kenalannya. Secara tak langsung, merekalah yang menjadi marketingnya. Sasaran awal adalah perusahaan yang beroperasi di Duri. Saat ini sudah 184 perusahaan dan sekolah yang bermitra dengan Rumah Jahit Lestari. "Alhamdulillah-nya, suami saya pandai menjalin hubungan baik dengan perusahaan-perusahaan," jelasnya.
Kendati demikian, berbagai kendala terus ia hadapi. Misal, saat awal mendapat pesanan baju safety api. Dia mendapat komplen dari perusahaan karena pakaian yang ia produksi tak sesuai SOP.
Beruntungnya, PHR kala itu memberi peluang kepada Suci untuk ikut serta dalam pelatihan Non Fire Protection Asosiation (NFPA) di Singapura. "Disana saya di ajarkan segalanya termasuk dengan memilih jenis atau dasar pakaian yang bagus dan bahan yang tahan api," ungkapnya.
"Saya orangnya ambisius, dan tak banyak bicara. Kalau saya punya keinginan pasti saya berusaha wujudkannya," sambungnya lagi semangat.
Semangat kerja keras itu pun berhasil ia tularkan kepada para pekerjanya. Rata-rata karyawan di Rumah Jahit Lestari, adalah mereka yang sudah berumur dan punya tanggungan keluarga.
"Kita tidak melihat ijazah, usia dan gender dalam mencari karyawan. Mau itu sudah tua, muda, laki-laki, perempuan, selagi dia ada kemauan untuk belajar kita terima dan diberikan pelatihan menjahit secara gratis," tegasnya.
Dari 86 karyawannya, sistem penggajiannya berbeda-beda. Ada yang digaji per bulan, seperti bagian administrasi, quality control dan pemasangan kancing. Sedangkan penjahit dan cating digaji Rp70 ribu per pieces. Menariknya, setiap karyawan yang dipercaya untuk memproduksi baju safety perusahaan juga dilakukan proses sertifikasi.
"Karena penjahit baju safety ini berbeda dengan penjahit baju pada umumnya, makanya penjahit kita perlu sertifikasi. Tak Cuma itu, baju hasil jahitan kita di Rumah Jahit Lestari juga diuji langsung oleh Balai Besar Tekstil di Bandung. Ini merupakan lembaga jasa dan penelitian tekstil," imbuhnya.
Untuk kapasitas produksi, kini rata-rata pekerja Rumah Jahit Lestari mampu menghasilkan antara 35 sampai 50 potong pakaian per hari, tergantung pesanan (PO).
"Umumnya, satu orang penjahit mampu menyelesaikan dua set wearpack dalam satu hari. Biasanya penjahit perempuan bisa menyelesaikan dua set per hari dan laki-laki bisa menyelesaikan lima sampai tujuh set per hari," ujarnya lagi.
Tak sampai disitu, yang membuat Rumah Jahit Lestari lebih istimewa yakni semua pakaian yang di jualnya ada garansi enam bulan, dengan harga lebih murah dibanding yang di Jakarta, serta juga gratis ongkir kemanapun.
"Jadi semua pakaian kita ada garansinya. Seperti resleting atau list
baju rusak, kita bisa perbaiki langsung ke perusahaan maupun orang bersangkutan mau antarkan langsung ke sini, itu tidak ada biaya tambahan. Dan untuk harga, mulai dari ukuran S sampai 6 XL harganya sama. Walaupun rugi dikit, bagi saya tak masalah. Ini yang berbeda di RJL," sebutnya lantang.
Di 2024, Suci bersama Rumah Jahit Lestari bahkan pernah mendapat orderan untuk membuatkan rompi Presiden RI, Joko Widodo serta rompi 13 Menteri Kabinet RI.
Selain itu, Rumah Jahit Lestari yang dimiliki Suci juga membuka program menjahit gratis bagi anak-anak sekolah maupun mahasiswa magang yang ada di Riau. Tak sampai disitu, kini RJL juga telah bekerjasama dengan Disnaker Riau. UPT Disabilitas dan Dinas Pemberdayaan Perempuan.
Kedepannya, Suci berharap agar usaha ini terus tumbuh dan berkembang sehingga dapat memberdayakan masyarakat lokal, khususnya dengan dukungan perusahaan-perusahaan pengguna pakaian APD Migas.
Terkait ekspor, saat ini Rumah Jahit Lestari belum merambah pasar luar negeri, mengingat permintaan dari dalam negeri saat ini tergolong sangat tinggi. "Untuk pasar ekspor sekarang ini mungkin belum," tukasnya sambil berfikir dan tersenyum lirih.
Dampak Program TJSL PHR Terhadap Rumah Jahit Lestari
Sr, Officer CID Zona Rokan North, R. Muhammad Wildan, menyampaikan
program pengelolaan tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) yang dilaksanakan PHR memang ditujukan untuk mendukung apa yang disebut social licensing. Artinya, keberadaan perusahaan di suatu daerah dapat diterima, didukung, dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat sekitar.
"Salah satu contoh nyata dari program pemberdayaan masyarakat adalah Rumah Jahit Lestari. Program ini difokuskan untuk mendukung pengembangan UMKM, sekaligus memberikan dampak atau outcome yang luas, seperti peningkatan kesejahteraan ekonomi, terciptanya rasa aman sosial, dan keberlanjutan usaha," ungkap Muhammad Wildan.
Kegiatan ini, ucapnya lagi, juga sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), misalnya mengurangi kemiskinan, kesenjangan sosial, memberikan kesempatan kerja yang layak, hingga mendorong pola produksi yang bertanggung jawab.
"Rumah Jahit Lestari sendiri saat ini sudah masuk ke tahap exit program. Artinya, kelompok masyarakat yang terlibat telah mandiri dan usahanya berkelanjutan secara ekonomi," terangnya.
Keberadaan rumah jahit ini memberi nilai tambah bagi masyarakat dan menjadi bukti nyata peran perusahaan dalam mendukung keberlanjutan sosial. "Terlebih program ini juga melibatkan berbagai kelompok masyarakat, mulai dari kelompok produktif, ibu-ibu rumah tangga, hingga lansia," jelasnya.
Analyst Social Performance Pertamina Hulu Rokan (PHR) WK Rokan, Priawansyah, menambahkan bahwa program ini tidak serta merta memberikan bantuan kepada semua pihak. Sebagai contoh, ia menyebutkan perjalanan Suci, seorang penerima bantuan, yang awalnya diragukan namun berhasil membuktikan kegigihannya.
Setelah melihat tekad itu selama empat bulan pada tahun 2021, PHR akhirnya memberikan bantuan berupa lima mesin jahit. Usaha ini berkembang pesat hanya dalam waktu singkat.
"Saya benar-benar terkejut. Ibu Suci mampu memanfaatkan peluang dengan baik, termasuk membuat baju safety untuk perusahaan, yang sangat dibutuhkan di Duri, termasuk oleh PHR," ujar Priawansyah.
Priawansyah menjelaskan, untuk mendapatkan bantuan PHR, masyarakat harus memiliki keseriusan, pengalaman, atau setidaknya sudah memulai usaha mereka.
"Sebelum memberikan bantuan, PHR akan melakukan pengecekan untuk memastikan penerima bantuan sudah memiliki pengalaman atau telah memulai usahanya. Kami tidak akan membantu orang yang tidak memiliki pengalaman atau yang belum memulai usaha sama sekali, kecuali mereka sudah menunjukkan keseriusan," tegasnya.
Langkah ini diambil untuk meminimalisir risiko keuangan dan memastikan bantuan yang diberikan kepada UMKM benar-benar bermanfaat dan berkembang.*
Penulis: Rivo
Wartawan Metro Riau