|
METRORIAU.COM
|
![]() |
|
||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||

PEKANBARU - Di sebuah ruangan sederhana yang tak begitu luas, berdiri kokoh sebuah rak berukuran sedang, persis menghadap pintu masuk. Dari kejauhan, rak itu tampak berkilau, seakan menyambut siapa saja yang datang. Ribuan aksesoris tersusun rapi di sana, cincin, kalung, gelang, bros. Modelnya beraneka, dari bunga yang merekah, kupu-kupu yang seakan hendak terbang, hingga simpul-simpul sederhana yang penuh makna.
Warna-warnanya berpendar, merah, emas, hijau, perak, putih, dan hitam. Sekilas, tempat itu menyerupai toko perhiasan mewah. Namun sesungguhnya, kilau yang terpancar bukan hanya datang dari manik-manik itu, melainkan dari doa dan harapan yang terajut di dalamnya.
Di tengah ruangan, dua perempuan muda duduk bersisian. Jari-jemari mereka cekatan bergerak, merangkai manik-manik mungil dengan kawat tipis hingga menjelma menjadi karya yang menawan. Mereka adalah Intan dan Fety, pengrajin di Mahacinta Jewelry, sebuah galery kreativitas yang berada di Jalan Utama, Gang Budi Sentosa Nomor 107, Rejosari, Tenayan Raya, Pekanbaru.
Bagi Fety, setiap manik yang ia rangkai bukan sekadar hiasan untuk memperindah penampilan. Ada syukur yang ia selipkan di sela kawat-kawat itu, sekaligus ada doa yang tak bersuara namun tetap bergema. Sambil menunduk tekun, sesekali ia tersenyum kecil, berbicara dalam bisikannya pada Intan, meski tak semua orang mampu menangkap suara itu.
Fety bukanlah pengrajin biasa. Ia seorang gadis tunarungu berusia 19 tahun, yang kini menemukan rumah kedua dalam ruang sederhana itu. Di Mahacinta, ia tidak merasa sekadar bekerja. Melainkan merasa berada di tengah keluarga, menyulam rasa percaya diri yang sempat pudar. Setiap kali jarinya menyelesaikan sebuah bros, gelang, atau kalung, seakan ada sepotong luka lama yang sembuh, digantikan oleh kebanggaan yang luar biasa.
"Saya sangat suka bekerja di sini," ucap anak kedua dari empat bersaudara tersebut lirih, dengan mata yang berbinar malu-malu, Selasa (16/9/2025).
Fety pernah merasa minder. Dunia kerap memandang keterbatasannya sebagai penghalang. Namun Mahacinta mengubah itu semua. Di tempat ini, ia belajar bahwa keterbatasan bukanlah dinding yang membatasi langkah, melainkan jendela untuk menunjukkan betapa luasnya potensi yang ia miliki.
Perjalanan itu bermula pada 2024 lalu, ketika Marlian Dwi Ratih, sang pemilik Galery Mahacinta Jewelry, melihat semangat besar di balik keterbatasan Fety. Dengan sabar, ia membimbingnya. Hari-hari pertama terasa sulit, apalagi saat Fety mencoba merangkai bros untuk pertama kalinya.
"Awalnya susah. Tetapi setelah terus belajar, akhirnya bisa," kenangnya sambil tersenyum.
Kini, satu demi satu, manik-manik mungil itu berhasil ia jinakkan, bahkan hasil karyanya tak kalah indah dari pengrajin lain. Tidak itu saja, ini menjadi simbol sebuah perjalanan seorang gadis muda yang menemukan kembali harga dirinya, yang belajar bahwa syukur bisa hadir dalam bentuk sederhana dari seutas kawat, butir manik, hingga menjadi sebuah bros mungil yang memantulkan cahaya.
Fety kini tidak lagi berjalan dengan rasa minder. Ia melangkah dengan bahu tegak, membawa pesan kepada dunia, bahwa disabilitas bukanlah akhir dari segalanya. Justru di sanalah terletak kesempatan, untuk menunjukkan pada keluarga dan dunia luar bahwa mereka berdaya, berharga, dan mampu berkarya.
Dari jari mungilnya, lahirlah aksesoris yang bukan sekadar perhiasan. Ia adalah simbol kekuatan, ketekunan, dan doa yang berkilau, lebih indah dari permata manapun.
Bukan hanya menjadi ruang bagi Fety. Bagi Intan, yang merupakan seorang ibu berusia 34 tahun dengan empat anak, Mahacinta Jewelry bagaikan penyelamat. "Saya mendapat banyak ilmu di sini. Dan untuk ekonomi, saya benar-benar terbantu," ungkapnya tulus.
Mahacinta hadir sebagai rumah penuh cinta, tempat para pekerja menenun harapan melalui karya. Dari kawat, manik, dan sentuhan sabar, mereka bukan hanya menciptakan aksesoris, tetapi juga menganyam cerita hidup, tentang keberanian, tentang syukur dalam kesederhanaan, dan tentang cahaya yang bisa muncul bahkan dari ruang paling sunyi.
Dan di antara semua kilau yang lahir dari sana, sinar mata Fety adalah permata paling berharga, mengingatkan kita bahwa kecantikan sejati bukanlah pada perhiasan yang kita kenakan, melainkan pada jiwa yang berani terus berjuang.
Proses dan Pencapaian UKM Mahacinta Jewelry
Di balik kilauan manik-manik yang tersusun menjadi gelang, kalung, dan bros, tersimpan sebuah cerita tentang cinta, ketekunan, dan keberanian seorang perempuan bernama Marlian Dwi Ratih, yang akrab disapa Ade. Dari sekadar hobi mengenakan gelang manik-manik, lahirlah sebuah gagasan sederhana untuk membuat aksesoris sendiri.
Awalnya ia belajar secara otodidak, meronce manik demi manik hingga membentuk aksesoris mungil nan cantik. Tak disangka, karyanya itu banyak mencuri perhatian teman dan saudara. "Lucu sekali, bikin lagi, saya mau beli," begitu suara-suara kecil yang akhirnya menuntun Ade membuka Galery Mahacinta Jewelry.
Tahun 2018 menjadi titik penting. Saat itu, pihak Pertamina bernama Mas Dodi menelfon Ade, dan menyampaikan keinginannya untuk berkunjung ke Galery Mahacinta Jewelry. "Waktu itu katanya ada tamu dari Jakarta yang ingin melihat usaha saya. Eh, ternyata langsung dijadikan UMKM binaan Pertamina dibawah naungan Rumah BUMN Pekanbaru," kenang Ade sambil tersenyum.
Sejak saat itu, Mahacinta tak lagi berjalan sendiri. Ada tangan yang menggandeng, ada jalan yang dibukakan. Walau begitu, perjalanan tidak selalu mudah. Tahun 2020, ketika pandemi melanda, Ade dituntun untuk bertransformasi ke online.
"Awalnya cuma menggunakan WhatsApp biasa, terus berubah menjadi akun bisnis, Instagram pribadi menjadi Instagram bisnis, hingga berani menjajaki TikTok. Dunia digital yang awalnya asing, kini menjadi sahabat setia dalam memperluas pasar," jelas Ade.
Perjuangan itu berbuah manis. Tahun 2023, Mahacinta Jewelry dinobatkan sebagai UMKM terbaik kedua se-Provinsi Riau oleh Bank Indonesia dan OJK. Waktu itu Ade diberikan pelatihan sekitar tujuh bulan, mulai sekitar akhir 2022 sampai dengan pertengahan 2023.
"Saya senang, di pelatihan saya banyak belajar. Mulai dari belajar manajemen, keuangan dan membuat kerajinan. Waktu singkat itu saya manfaatkan sebaik mungkin," ungkap Ade semangat.
Tak berhenti di situ, tahun berikutnya (2024), Ade lagi-lagi menorehkan prestasi gemilang. Kali ini ia mewakili Rumah BUMN Pekanbaru dan masuk 10 besar nominasi UMKM tingkat nasional Pertamina. Meski belum menjadi juara, pengalaman itu kembali membuka cakrawala baru bagi dia untuk belajar manajemen karyawan, memperluas jejaring, hingga memahami cara mengembangkan usaha.
"Saat itu, perwakilan Riau bukan saya satu-satunya. Ada tiga perwakilan, kebetulan saya mewakili rumah BUMN Pekanbaru, kemudian ada perwakilan rumah BUMN Dumai dan Meranti. Jadi kita berangkat ke Magelang sebagai nominasi," terangnya.
Sisi lain, yang membuat Mahacinta begitu berbeda bukan hanya produknya, melainkan jiwa kemanusiaan yang menyala di dalamnya. Ade membuka pintu lebar-lebar bagi anak-anak disabilitas. Baginya, setiap anak istimewa memiliki cahaya yang layak diberi ruang untuk bersinar.
Ia pun berkolaborasi dengan Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Sri Mujinab, yang berlokasi di Jalan Dr. Sutomo, Kelurahan Cinta Raja, Kecamatan Sail, Kota Pekanbaru. Tahun 2024, ia mengajar siswa-siswi di sana membuat aksesoris. Dari sanalah lahir ikatan yang indah. Salah satunya adalah Fety, gadis tunarungu yang cerdas, penuh semangat, sekaligus ketua kelas.
Melihat potensinya, Ade tak ragu mengajaknya bergabung. Kini, Fety bersama dua mantan siswa SLB lainnya menjadi bagian keluarga besar Mahacinta Jewelry.
"Setahun saya mengajar disana. Mereka bukan sekadar karyawan. Tetapi adalah bagian dari hati Mahacinta. Pintu ini akan selalu terbuka untuk mereka, kapan pun mereka butuh tempat untuk berkarya," tutur Ade lirih.
Hari-hari di Mahacinta dipenuhi suara-suara lembut, bukan teriakan target. Para pengrajin bekerja dengan ritme hati, bahkan bisa melanjutkan pekerjaan dari rumah. Setiap manik yang terangkai adalah bukti bahwa kesabaran mampu melahirkan keindahan.
Walau saat ini karyawan di Mahacinta Jewelry belum terlalu banyak, produksinya tetap berjalan lancar. Sehari, Mahacinta mampu memproduksi 150 hingga 200 aksesoris, dengan lebih dari 20 jenis produk. Masalah harga juga terjangkau, mulai Rp50 ribu hingga aksesoris berkelas jutaan rupiah yang melanglang buana ke pameran bergengsi seperti Inacraft dan Kriyanusa di Jakarta.
"Untuk harga kita tidak terlalu tinggi. Pasaran harga disini mulai Rp50 ribu sampai Rp500 ribu saja. Khusus yang harga jutaan, biasanya kita pasarkan ke Inacraft dan Kriyanusa di Jakarta. Disana, harga yang 200 sampai 400 ribu itu dihargai sekitar Rp900 ribu hingga Rp2,8 juta," ujarnya.
Terkait Omzet per bulan, Mahacinta Jewelry memang belum terlalu fantastis, sekitar Rp30 juta. Namun, lebih dari angka, Mahacinta telah mencetak makna. Bahwa sebuah usaha tidak hanya tentang keuntungan, tetapi juga tentang memberi harapan, ruang, dan kesempatan bagi mereka yang kerap dipinggirkan.
Bagi Ade, perjalanan menekuni usaha aksesoris bukanlah jalan terjal penuh rintangan. Ia justru menyebutnya sebagai ladang syukur.
"Alhamdulillah, saya sangat bersyukur dengan adanya usaha ini. Untuk bahan baku tidak pernah sulit. Semuanya lancar, umumnya kita ambil bahan di Pekanbaru, walau ada juga beberapa yang didatangkan dari luar daerah," sebutnya, seakan menegaskan bahwa ketika niat tulus dipertemukan dengan usaha, jalan selalu terbuka.
Kendati begitu, bukan berarti usahanya tanpa tantangan. Sesekali, langkahnya tergesa ketika undangan bazar datang mendadak. "Paling kendala kalau ada bazar dari Pertamina yang tiba-tiba. Sementara produksi kami belum terlalu banyak. Karena itu, saya berusaha tetap konsisten membuat produk setiap hari, agar selalu ready," tuturnya, dengan senyum yang menyimpan tekad kuat.
Di luar undangan resmi, Ade pun tak segan mengambil inisiatif sendiri. Ia kerap menggelar bazar mandiri di pusat-pusat perbelanjaan ternama di Pekanbaru, seperti Mal SKA dan Living World.
"Ya, kita juga sering melakukan bazar mandiri di beberapa mal yang ada di Pekanbaru. Jadi kita tak hanya menunggu undangan bazar dari Pertamina," tutur perempuan yang saat ini juga berkolaborasi dengan SLB Negeri Sriwijaya, Pekanbaru tersebut.
Dari satu meja sederhana yang dipenuhi kilau manik-manik, Ade berbagi lebih dari sekadar aksesoris, ia menyuguhkan cerita tentang ketekunan, doa, dan keyakinan bahwa kerja keras tak pernah mengkhianati hasil.
Disamping itu, ia juga turut mengucapkan terimakasih kepada Pertamina melalui Rumah BUMN Pekanbaru, karena sudah banyak membantu, terutama dalam pemasaran digital dan branding.
"Untuk Pertamina, terimakasih banyak.
Semoga kerjasama ini terus berlanjut. Supaya Mahacinta bisa tumbuh lebih besar, produknya dikenal lebih luas, dan mampu bersaing di pasar global," tuturnya penuh harapan dan semangat.
Rumah BUMN, Wadah Sinergi dan Penggerak UMKM Naik Kelas di Riau
Di balik gemerlap nama besar Badan Usaha Milik Negara (BUMN), ada sebuah ruang sederhana yang lahir dari kepedulian, yakni Rumah BUMN. Ia hadir sebagai bukti nyata komitmen PT Pertamina (Persero) dan anak perusahaannya dalam melaksanakan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL).
Lebih dari sekadar program sosial, Rumah BUMN menjadi wadah sinergi dan kolaborasi lintas unit bisnis Pertamina di wilayah Riau untuk mendukung pengembangan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
"Melalui Rumah BUMN, berbagai program pemberdayaan dan pelatihan bagi pelaku UMKM terus digalakkan. Tujuannya sederhana, namun berdampak besar dalam menciptakan UMKM yang berdaya saing, mandiri, dan mampu menembus pasar nasional hingga global," ungkap Riza Prawira, CEO Muda Rumah BUMN Riau.
Mitra Binaan Rumah BUMN merupakan para pelaku UMKM yang mendapatkan dukungan, pembinaan, dan bantuan dalam berbagai aspek pengembangan usaha. Mulai dari peningkatan kualitas produk, strategi pemasaran, manajemen dan keuangan, hingga akses pasar serta pelatihan keterampilan.
Selain itu, Rumah BUMN berperan sebagai pendamping bagi UMKM, baik yang baru tumbuh maupun yang sudah berjalan. Setiap mitra dibina berdasarkan level dan kriteria tertentu seperti potensi pertumbuhan, keberlanjutan usaha, serta kebutuhan spesifik untuk naik kelas.
"Dengan pendekatan yang terukur, Rumah BUMN memastikan setiap UMKM binaan berkembang secara berkelanjutan dan memiliki daya saing tinggi," ucap Riza lagi.
Sama halnya dengan Mahacinta Jewelry. Sebuah UMKM yang memilih jalan kriya, jalan yang tak serumit pangan dalam regulasi, tetapi penuh liku perjuangan. Kini karyanya pelan-pelan menapak kokoh di bawah binaan Rumah BUMN Pekanbaru.
Di sinilah Mahacinta belajar bahwa sebuah usaha bukan sekadar barang jualan, melainkan mimpi yang harus dijaga. Melalui Mandiri Internet Bisnis (MIB) dan perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI), ia diperteguh, agar karya tidak hanya indah dipandang mata, tetapi juga tahan berdiri menghadapi arus persaingan.
"Pertamina melihat celah besar di sana, kita juga mendorong bagaimana agar Mahacinta tidak hanya tumbuh, tetapi juga mampu menembus pasar ekspor," tutur Teresia Maririsky, Fasilitator Rumah BUMN Pekanbaru, dengan suara yang penuh harap.
Langkah demi langkah ditempa. Branding menjadi kunci pertama. Mahacinta didorong naik panggung, dari Pertamina Smexpo, Pokok Karya Lokal, hingga bazar UMKM. Rumah BUMN tak sekadar membukakan pintu, tetapi mengulurkan tangan dalam digital marketing, perbaikan kemasan, hingga peningkatan kualitas agar produk mampu bersaing di kancah global.
Sampai kini, lebih dari 200 Rumah BUMN berdiri gagah di seluruh Indonesia. Masing-masingnya menjadi saksi bagaimana usaha kecil tumbuh menjadi besar, bagaimana mimpi-mimpi sederhana diberi sayap, dan bagaimana kepedulian berubah menjadi kekuatan.
"Secara nasional, Rumah BUMN itu ada sekitar 200 lebih. Tapi yang dibawah naungan Pertamina, ada 30 Rumah BUMN, dan empat di antaranya ada di Riau, yakni Pekanbaru, Dumai, Meranti, dan Kampar. Kenapa di Riau cukup banyak, karena Pertamina Riau besar, ada Pertamina Kilang, Pertamina Hulu, dan Pertamina Gas," tambah Riza Prawira, CEO Muda Rumah BUMN Riau.
Di Rumah BUMN, para pelaku usaha kecil disapa dengan hangat. Mereka belajar banyak hal, mulai dari keterampilan dasar, pengurusan legalitas seperti Nomor Induk Berusaha (NIB) dan Produk Industri Rumah Tangga (PIRT), hingga strategi mengelola usaha.
Lebih dari itu, Rumah BUMN membuka cakrawala baru melalui pelatihan desain kemasan, branding, pemasaran digital, dan media sosial. Untuk UMKM yang masih gagap teknologi, hadir mahasiswa magang dari berbagai universitas di Riau sebagai sahabat yang mendampingi.
"Ya, kita membuka internship untuk mahasiswa Riau. Mereka belajar packaging, desain produk, hingga strategi pemasaran. Semua proses pelatihan, pameran, pendampingan diberikan tanpa pungutan biaya," ungkap Riza.
"Biaya operasional sepenuhnya ditanggung oleh BUMN, sehingga UMKM dapat berkembang tanpa beban. Cukup dengan mengisi formulir digital, mereka resmi menjadi mitra binaan. Tak ada syarat khusus, bahkan bila sudah dibina oleh instansi lain, tetap diperkenankan bergabung. Kolaborasi menjadi kunci, bukan kompetisi," tambah Fasilitator Rumah BUMN Pekanbaru yang akrab disapa Tere.
Rumah BUMN juga tak berhenti pada pelatihan. Ia menjadi jembatan menuju pasar, membuka peluang lewat pameran, kerja sama dengan perusahaan besar seperti PHR, Dekranasda, hingga pemerintah daerah. UMKM diberi ruang untuk tampil, didengar, dan dihargai.
Bahkan saat mengikuti Trend Expo, pameran dagang internasional terbesar di Indonesia, seluruh biaya ditanggung penuh Pertamina. Mahacinta hanya diminta untuk belajar dan berani melangkah.
Dan permasalahan produksi yang menjadi tantangan Mahacinta saat pameran mendadak pun di backup Rumah BUMN. Ia hadir bukan memberi modal instan, melainkan membuka jalan menuju sumber-sumber permodalan terpercaya, seperti Program Pendanaan Usaha Mikro dan Kecil (PUMK), pinjaman hingga seratus juta dengan bunga hanya tiga persen.
"Kalau KUR bunganya berada di kisaran 6 hingga 7 persen, maka ini hanya menetapkan bunga 3 persen, dan itu pun bersumber dari dana BUMN yang didistribusikan BRI untuk membantu UMKM. Jadi, pilihan sepenuhnya ada di tangan pelaku usaha, apa berani melangkah lebih jauh, atau tetap bertahan di tempat," ujar Riza Prawira, CEO Muda Rumah BUMN Riau lagi.
Bagi UMKM yang konsisten dan berprestasi, Pertamina juga memberi penghargaan. Pelatihan ekspor, fasilitasi sertifikasi halal, hingga pembiayaan penuh pendaftaran HAKI. "Semua menjadi penghormatan atas kerja keras, bukan sekadar hadiah," ujar Riza.
Rumah BUMN bukan hanya wadah, ia adalah sekolah kehidupan. Lewat UMKM Academy, setiap binaan ditempa disiplin. Bulan pertama penuh tugas, bulan kedua menjadi cermin. Siapa yang sungguh berkomitmen, dan siapa yang sekadar ikut arus. Mahacinta tetap bertahan, melangkah, dan tumbuh.
Kini, jejaknya semakin kokoh. Mahacinta belajar bahwa bisnis bukan sekadar menjual barang, melainkan menjaga mimpi agar tetap hidup. Bahwa setiap produk adalah cerita tentang bangsa yang ingin berdiri sejajar di panggung dunia.
Namun, tantangan tetap membayangi. Di Riau, masih banyak UMKM yang enggan naik kelas, merasa cukup dengan yang ada, asing dengan dunia digital. Padahal, jalan menuju ekspor terbuka lebar. Hanya yang punya kemauan dan keberanian bisa berhasil.
"Inilah salah satu tugas kita, untuk memberi edukasi terhadap para UMKM yang kurang melek digital, dan kesulitan memasarkan produk. Karena program kita ini dirancang untuk memberi manfaat berkelanjutan, baik peningkatan keterampilan, akses pasar, maupun dukungan pada sektor vital, seperti pendidikan dan lingkungan," jelas Riza tentang program TJSL Kementerian BUMN.
Dari sini, Mahacinta terus menjaga mimpinya. Ia bukan sekadar perhiasan yang dikenakan, melainkan simbol ketekunan, doa, dan harapan agar karya anak bangsa mampu bersinar di panggung dunia.
Pada dasarnya, Rumah BUMN tidak hanya menjadi tempat pembinaan, tetapi juga rumah bagi semangat kolaborasi dan kemandirian. Di sinilah para pelaku UMKM belajar, bertransformasi, dan bersama-sama menapaki jalan menuju kemandirian ekonomi daerah dan bangsa.*
Penulis: Rivo
Wartawan Metro Riau