|
METRORIAU.COM
|
![]() |
|
||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||

PEKANBARU - Minimnya minat baca memicu rendahnya tingkat literasi masyarakat. Literasi generasi muda perlu didongkrak melalui peran keluarga, institusi pendidikan, dan masyarakat untuk meningkatkan daya saing di masa depan.
Hal tersebut terungkap dalam Forum Group Discussion (FGD) yang digelar Tanoto Foundation bersama media massa di Provinsi Riau, di salah satu hotel di Kota Pekanbaru, pada Selasa (28/10).
Dalam FGD itu, terungkap pula bahwa tingkat kegemaran membaca masyarakat Provinsi Riau memiliki skor 70,26 poin atau berada pada kategori sedang. Hal tersebut tentu saja menjadi tantangan literasi yang masih perlu diperkuat, terutama dalam menyongsong visi Indonesia Emas 2025.
Kondisi itu sejalan dengan hasil Penilaian Siswa Internasional (PISA) tahun 2022, di mana skor rata-rata siswa Indonesia untuk membaca, matematika, dan sains mengalami penurunan, meski peringkat globalnya justru naik.
Regional Lead Tanoto Foundation Riau Dendi Satria Buana mengatakan, media massa memiliki peran penting untuk memperkuat literasi dan numerasi masyarakat. Menurutnya, media memiliki jangkauan luas untuk menginformasikan tanpa batas.
"Kalau isu praktik baik literasi dan numerasi bisa disebarkan, tentu banyak pihak lain bisa mengadopsinya," tutur Dendi.
Ia mengatakan, Tanoto Foundation sendiri memiliki komitmen kuat terhadap peningkatan literasi dan numerasi di Indonesia, sebagai kunci untuk pengembangan sumber daya manusia (SDM) dan kualitas pendidikan. Langkah itu dilakukan melalui Program Pengembangan Inovasi untuk Kualitas Pembelajaran (PINTAR), yang juga telah berjalan di Riau sejak 2018.
Dendi juga mengatakan bahwa Tanoto Foundation telah menjalin banyak kolaborasi dengan media dalam berbagai program pendidikan. Menurutnya, media tidak hanya berperan sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai penggerak advokasi literasi.
"Kami berharap ke depan media massa semakin gencar mengamplifikasi dan advokasi, sehingga banyak pihak semakin terpapar dan sadar bahwa fondasi literasi dan numerasi itu jangka panjang menyiapkan SDM," katanya.
Dendi menyampaikan, peningkatan literasi dan numerasi dibutuhkan kolaborasi pentahelix yang melibatkan pemerintah, perguruan tinggi, swasta, masyarakat, dan media massa. Menurutnya, jika suatu isu mendapat fokus dari banyak pihak, maka peningkatannya akan lebih cepat.
Sementara itu, perwakilan dari Balai Guru dan Tenaga Kependidikan (BGPK) Riau Reisky Bestary menilai rendahnya literasi dan numerasi peserta didik menjadi pemicu utama lahirnya Gerakan Nasional Literasi dan Numerasi (GNR).
"Data menunjukkan skor membaca dan matematika siswa kita masih di bawah rata-rata nasional. Karena itu, GNR hadir untuk memperbaiki hal tersebut sejak usia dini," kata Reisky.
Ia menambahkan, salah satu inisiatif yang dijalankan adalah program Taman Generasi yang diterapkan di PAUD dan TK di Riau untuk memperkuat literasi dan numerasi sejak dini.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Riau Budi Fakhri menuturkan bahwa pihaknya akan menambah armada mobil perpustakaan keliling pada tahun depan. "Gubernur juga memberikan dukungan penuh terhadap upaya peningkatan literasi numerasi di Riau," ujarnya.
Dalam FGD itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Siak Fakhrurrozi, turut mengapresiasi dukungan berbagai pihak terhadap peningkatan kualitas pendidikan di daerahnya. Ia menyebut kerja sama dengan Tanoto Foundation sejak 2018 telah membawa dampak nyata dalam pelatihan guru dan penguatan literasi numerasi di sekolah-sekolah.
"Kami juga sedang mendorong pembentukan Taman Numerasi di setiap PAUD dan komunitas belajar guru agar proses belajar anak usia dini menjadi lebih menyenangkan dan bermakna," ujarnya..*