|
METRORIAU.COM
|
![]() |
|
||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||

BAGANSIAPIAPI - Suasana haru menyelimuti Pelabuhan Hasan pada Jumat (14/11) malam ketika 10 nelayan asal Bagansiapiapi, Kabupaten Rokan Hilir (Rohil) akhirnya kembali ke Tanah Air.
Mereka tiba sekitar pukul 21.30 WIB setelah melalui proses panjang pemulangan usai dibebaskan oleh otoritas maritim Malaysia.
Kedatangan para nelayan disambut langsung Inspektur Daerah Rohil, H Sarman Syahroni ST MIP, yang hadir mewakili Bupati Rohil. Sarman menyampaikan rasa syukur atas kepulangan para nelayan dalam keadaan sehat dan selamat.
“Alhamdulillah, seluruh nelayan kita kembali dalam keadaan sehat. Mereka juga berterima kasih kepada Pemerintah Daerah dan Konsulat Malaysia di Pekanbaru atas bantuan selama proses pemulangan,” ujarnya.
Sebelumnya, dua kapal nelayan dari Bagansiapiapi, Kecamatan Bangko, diamankan Police Marine Malaysia pada Kamis (5/11) pagi. Penangkapan terjadi di perairan Selat Malaka, dekat Pulau Indah Port Klang, Selangor, ketika kapal diduga melewati batas wilayah.
Setelah menjalani pemeriksaan intensif, para nelayan akhirnya dibebaskan pada Jumat (14/11). Kabar penangkapan tersebut langsung mendapat perhatian serius dari Bupati Rohil H Bistamam dan Wakil Bupati Jhony Charles.
Pemerintah daerah bergerak cepat memastikan keselamatan para nelayan serta mempercepat proses pemulangan mereka. Tidak lama setelah menerima laporan, Bistamam mendatangi Konsulat Malaysia di Pekanbaru bersama Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Riau serta pengurus HNSI Rohil.
Mereka bertemu pejabat Konsulat Malaysia, Muhammad Hoesnie Shahirah, bersama perwakilan Kementerian Luar Negeri RI untuk membicarakan solusi.
“Saya langsung menemui Head of Mission di Konsulat Malaysia. Alhamdulillah respons mereka baik dan hasilnya para nelayan kita dibebaskan. Ini kabar yang sangat melegakan bagi keluarga mereka,” kata Bistamam.
Adapun dua kapal yang dibebaskan adalah KM Uong dengan lima ABK: Samsudin (tekong), Edi, Iram, Robi, dan Risi, serta KM Willy Sukses 4 bernomor dinding 877/PF dengan lima ABK: Melis (tekong), Hamdan, Aji, Jefri, dan Idur Kosim.
Kini, setelah melewati perjalanan panjang, seluruh nelayan telah kembali ke kampung halaman. Pemerintah daerah berkomitmen memberikan pendampingan dan mengingatkan agar para nelayan selalu memperhatikan batas wilayah perairan internasional guna menghindari insiden serupa di masa mendatang.*