|
METRORIAU.COM
|
![]() |
|
||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||

PEKANBARU — Sebanyak 88 mahasiswa Universitas Lancang Kuning (Unilak) mengalami gangguan kesehatan setelah mengikuti kegiatan Peningkatan Mutu Akademik yang dilaksanakan di sebuah hotel di Kota Pekanbaru.
Mereka mengeluhkan mual dan diare dengan tingkat keparahan yang bervariasi.
Kegiatan tersebut berlangsung selama tiga hari, mulai 7 hingga 9 Januari 2026, dan diikuti oleh 183 mahasiswa angkatan 2023 penerima Beasiswa Prestasi Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau.
Keluhan kesehatan mulai dirasakan pada Jumat (9/1/2026) siang, bertepatan dengan hari terakhir kegiatan.
Berdasarkan data yang dihimpun panitia, dari 88 mahasiswa yang terdampak, 41 orang mengalami sakit perut, 28 orang diare, dan 19 orang muntah-muntah.
Sebagian mahasiswa mengaku keluhan muncul secara tiba-tiba dan cukup mengganggu aktivitas.
Kepala Bagian Kemahasiswaan Unilak, Fitri Juliani, membenarkan adanya laporan tersebut. Ia menyampaikan bahwa pihak kampus masih melakukan pemantauan dan pengumpulan informasi untuk memastikan penyebab gangguan kesehatan tersebut.
“Kami masih menelusuri apa penyebabnya. Untuk sementara, belum ada laporan mahasiswa yang dirawat inap,” ujar Fitri.
Sejumlah peserta menyebutkan bahwa gangguan pencernaan yang dialami cukup parah. Ada mahasiswa yang baru melaporkan keluhannya setelah mengetahui peserta lain mengalami kondisi serupa, bahkan seorang mahasiswa mengaku hingga 20 kali ke toilet dalam satu hari.
Menanggapi kejadian tersebut, panitia pelaksana menyampaikan permohonan maaf kepada peserta dan berkomitmen melakukan penelusuran lebih lanjut.
“Kami menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh mahasiswa dan akan menindaklanjuti kejadian ini,” kata Fitri melalui grup komunikasi peserta.
Sementara itu, Kepala Biro Akademik Unilak, Ade Irwanda, mengatakan pihak kampus telah menyiapkan layanan pemeriksaan kesehatan bagi mahasiswa yang masih mengalami keluhan.
“Mahasiswa yang masih merasakan mual atau muntah dapat memeriksakan kesehatannya di Klinik Unilak Medical Center,” ujarnya.
Di sisi lain, General Manager Doni Martin Chaniago, menyatakan pihaknya prihatin atas kondisi yang dialami mahasiswa dan saat ini tengah melakukan evaluasi internal.
“Kami bertanggung jawab dan sedang melakukan investigasi menyeluruh terhadap seluruh proses operasional. Namun, hingga kini belum dapat disimpulkan penyebab pasti kejadian tersebut,” kata Doni.
Ia menjelaskan bahwa selama dua hari pertama kegiatan tidak ditemukan adanya keluhan kesehatan dari peserta. Informasi mengenai gangguan kesehatan baru diterima pihak hotel sehari setelah kegiatan berakhir.
Untuk memastikan penyebab kejadian, manajemen hotel mengirimkan sampel makanan ke laboratorium.
Selain itu, pihaknya juga mengevaluasi kemungkinan faktor lain, seperti kondisi fisik peserta, kelelahan, pola makan, hingga suhu ruangan.
“Kami tidak ingin berspekulasi sebelum hasil pemeriksaan laboratorium keluar,” ujarnya.
Doni juga menegaskan bahwa seluruh konsumsi disiapkan sesuai standar hotel bintang empat, dengan proses pengolahan makanan yang dilakukan mendekati waktu penyajian dan mengikuti prosedur kebersihan yang ketat.
Ia menambahkan, pada waktu yang sama, hotel juga menggelar kegiatan lain dengan menu serupa dan tidak ditemukan adanya keluhan kesehatan dari peserta kegiatan tersebut.
“Hingga saat ini, tidak ada laporan peserta yang menjalani perawatan inap. Keluhan yang ada bersifat sementara dan sudah membaik,” katanya.
Diketahui, kegiatan Peningkatan Mutu Akademik tersebut menggunakan anggaran yang bersumber dari dana beasiswa semester ganjil dan genap tahun akademik 2025/2026.*