|
METRORIAU.COM
|
![]() |
|
||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||

PEKANBARU - Indonesia Vegetarian Society (IVS) Riau bersama Vegan Society of Indonesia (VSI) Riau dan World Vegan Organisation (WVO) Riau melaksanakan workshop pembuatan tempe. Kegiatan berlangsung di Sekolah Metta Maitreya, Pekanbaru, Jumat (12/6/2026).
Workshop dihadiri Wasekjen IVS sekaligus Pembina IVS Riau, Rosaria S Pd B M Pd, Ketua VSI Riau, Susanto S Pd, Ketua WVO Riau, Niadi Kurniawan S Pd dan Kepala Badan Pelaksana Harian (BPH) Yayasan Prajnamitra Maitreya, Suryati S Sos MM. Kemudian menghadirkan nara sumber Borgo Parlinggoman Ritonga yang juga pengusaha tempe di Pekanbaru.
Pembina IVS Riau, Rosaria mengatakan, workshop dalam rangka memperingati Hari Tempe Nasional dan mensosialisasikan makanan nabati yang kaya gizi.
"Workshop pembuatan tempe baru pertama kali dilaksanakan. Kami berharap dapat menjadi agenda rutin. Memberikan edukasi dan wawasan kepada guru, siswa, relawam maupun pengurus IVS bahwa tempe merupakan salah satu sumber protein nabati dan mempunyai kandungan gizi yang baik untuk tubuh," ujarnya.
Selain itu, lanjutnya, tempe yang merupakan makanan tradisional khas Indonesia bisa menjadi pilihan masyarakat dalam memenuhi gizi keluarga, karena harganya yang sangat terjangkau.
Dalam setiap 100 gram tempe terkandung protein nabati 18-20 gram yang sangat baik untuk pembentukan sel dan otot, karbohidrat 7-12 gram, lemak baik 7-9 gram terutama lemak tak jenuh, serat pangan 1,4-3 gram untuk mendukung kesehatan pencernaan, kalsium 100 mg yang sangat baik untuk kesehatan tulang dan zat besi 2-3 mg untuk membantu mencegah anemia.
Rosaria menambahkan, IVS, VSI dan WVO Provinsi Riau secara rutin mensosialisasikan hidup sehat ala vegan kepada masyarakat luas. Baik melalui vegan festival, seminar maupun memberikan edukasi lewat workshop.
Sementara itu, Pelaksana Harian (BPH) Yayasan Prajnamitra Maitreya, Suryati mengatakan, workshop pembuatan tempe melibatkan guru, tenaga kependidikan dan siswa Sekolah Metta maitreya. Terdapat juga pengurus dan relawan IVS Pekanbaru dan Riau.

Melalui kegiatan ini, lanjutnya, peserta diharapkan dapat memahami kandungan gizi dan manfaat tempe bagi kesehatan serta mengetahui proses pembutannya yang higienis dan berkualitas.
Nara Sumber Borgo Parlinggoman Ritonga mengaku senang dapat berbagi ilmu di Sekolah Metta Maitreya. Dikatakannya, proses pembuatan tempe tidak memakan waktu lama, hanya empat hari.
Dalam workshop tersebut, peserta yang dibagi menjadi 12 kelompok begitu antusias dan semangat mengikuti proses pembuatan tempe. Mulai dari pemilihan dan pencucian kedelai, perendaman awal, penambahan ragi, pembungkusan bahan dan proses lainnya.
Pada kesempatan tersebut, dilaksanakan juga demo masak dengan bahan dasar tempe. Demo masak diperagakan langsung oleh relawan IVS, VSI maupun WVO Provinsi Riau. Menu demo masak berupa sambal tempe petai, tempe asam manis, gulai tempe dan tempe barbeque wijan. Menu dibuat praktis, bergizi, dan punya cita rasa lezat.*