|
METRORIAU.COM
|
![]() |
|
||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||

PEKANBARU - Pemerintah Provinsi Riau memperkuat upaya pencegahan dan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui kolaborasi lintas sektor. Pemerintah daerah bersama TNI, Polri, Manggala Agni, pemerintah kabupaten/kota hingga masyarakat terus memperkuat koordinasi untuk mencegah munculnya titik api dan memastikan potensi kebakaran dapat ditangani sedini mungkin.
Plt Gubernur Riau SF Hariyanto mengatakan, sinergi seluruh pihak menjadi kunci dalam menjaga Riau dari ancaman karhutla. Menurutnya, upaya pencegahan tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat.
"Kami berkolaboratif antara pemerintah, TNI/Polri, Manggala Agni hingga juga masyarakat di Provinsi Riau terus menggalakkan jangan membakar hutan. Kita terus berkoordinasi untuk menjaga situasi," ujar SF Hariyanto di Polda Riau, Kamis (20/8/2026).
SF Hariyanto menjelaskan, Pemprov Riau bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) telah mengeluarkan maklumat sebagai bentuk penegasan kepada masyarakat agar tidak melakukan pembakaran hutan dan lahan.
Imbauan tersebut juga diperkuat melalui koordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota, TNI, Polri, tokoh masyarakat serta Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR).
"Kami telah mengeluarkan maklumat agar tidak membakar hutan. Pemerintah Provinsi Riau bersama pemerintah kabupaten/kota, Pak Kapolda, Pak Pangdam, tokoh masyarakat, dan Lembaga Adat Melayu Riau juga mengimbau masyarakat bahwa kebakaran hutan itu sangat membahayakan," jelasnya.
Menurut SF Hariyanto, maklumat tersebut menjadi komitmen bersama yang harus dipegang seluruh unsur pemerintahan, lembaga dan organisasi terkait. Dengan kesepahaman itu, setiap potensi karhutla di lapangan diharapkan dapat segera ditangani sebelum api meluas.
"Nah, maklumat inilah yang pemerintah, lembaga, dan organisasi pegang bersama. Kalau misal ada terjadi satu atau dua permasalahan (karhutla) dalam wilayah ini kita langsung menanganinya," tegasnya.
Dalam penanganan karhutla, dukungan TNI, Polri dan Manggala Agni dinilai sangat penting. Kesiapsiagaan bersama memungkinkan respons terhadap titik api dilakukan lebih cepat sekaligus memperkecil risiko kebakaran meluas.
SF Hariyanto menyampaikan apresiasi kepada jajaran TNI dan Polri yang terus mendukung upaya pengendalian karhutla di Riau.
"Yang penting kami di sini semuanya berkolaboratif. Saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak Pangdam dan Bapak Kapolda beserta jajarannya ini luar biasa, tanpa dukungan mereka Riau tidak aman," ungkapnya.
Selain memperkuat koordinasi di lapangan, Pemprov Riau bersama Forkopimda juga memanfaatkan teknologi untuk memantau potensi karhutla. Salah satunya melalui Dashboard Lancang Kuning yang digunakan untuk memantau informasi titik panas atau hotspot.
SF Hariyanto mengatakan, sistem pemantauan tersebut dapat diakses oleh sejumlah unsur terkait, termasuk Polda Riau, Kodam, Kantor Gubernur dan BPBD.
"Kami di sini ada dashboard Lancang Kuning. Jadi di Polda, Kodam, Kantor Gubernur, hingga BPBD ada aplikasi itu sehingga kami bisa memantaunya. Begitu nampak ada hotspot, kami segera mengirim tim ke sana," tuturnya.
Menurutnya, kecepatan mendeteksi dan merespons hotspot menjadi faktor penting agar potensi kebakaran tidak berkembang menjadi lebih besar. Karena itu, pemantauan dilakukan secara berkelanjutan dengan melibatkan berbagai unsur yang memiliki kewenangan dan kemampuan penanganan di lapangan.
Masyarakat Jadi Garda Terdepan
Di sisi lain, SF Hariyanto menekankan bahwa keterlibatan masyarakat tetap menjadi bagian penting dalam strategi pencegahan karhutla. Kesadaran untuk tidak melakukan pembakaran secara sembarangan dinilai menjadi langkah awal yang sangat menentukan.
Kolaborasi antara pemerintah, TNI, Polri, Manggala Agni dan masyarakat diharapkan tidak hanya mempercepat penanganan ketika kebakaran terjadi, tetapi juga mampu menekan potensi munculnya titik api sejak awal.*