|
METRORIAU.COM
|
![]() |
|
||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||

PEKANBARU -Universitas Riau (Unri) terus memperkuat perannya sebagai perguruan tinggi berbasis riset melalui pengukuhan delapan Guru Besar dari berbagai bidang keilmuan strategis, sebagai upaya menghadirkan solusi akademik bagi pembangunan daerah dan nasional.
Pengukuhan ini menjadi momentum strategis dalam memperkuat kapasitas intelektual Unri untuk menjawab tantangan pembangunan daerah, nasional, hingga global.
Rektor Unri, Prof. Dr. Hj. Sri Indarti, SE., MSi. menegaskan bahwa Guru Besar memiliki peran penting dalam mentransformasikan ilmu pengetahuan menjadi solusi nyata bagi masyarakat.
Menurutnya, jabatan profesor bukan sekadar capaian akademik tertinggi, melainkan amanah untuk menghadirkan kebermanfaatan yang luas.
“Pengukuhan ini bukan hanya seremoni akademik. Kehadiran delapan Guru Besar hari ini menjadi tambahan energi luar biasa bagi kekuatan intelektual Unri. Gelar profesor bukanlah akhir perjalanan, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar untuk menjadi ‘menara air’ yang mengalirkan solusi, bukan sekadar ‘menara gading’ yang menjulang tinggi namun tak menyentuh bumi,” ujar nya saat pelantikan yang digelar, Senin (19/1/2026), di Gedung Student Center Kampus Bina Widya Unri.
Delapan Guru Besar yang dikukuhkan berasal dari berbagai bidang keilmuan strategis, mulai dari keperawatan, teknik, pendidikan, perikanan dan kelautan, hingga hukum.
Keberagaman kepakaran ini mencerminkan kesiapan Unri dalam memperkuat sumber daya manusia unggul, mendorong inovasi berbasis riset, serta mengembangkan solusi lintas sektor yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Adapun Guru Besar yang dikukuhkan, yakni:
1. Prof. Ns. Bayhakki, M.Kep., Sp.KMB., Ph.D. (Keperawatan Medikal Bedah)
2. Prof. Dr. Nazaruddin, S.T., M.T. (Teknik Mesin – Kendaraan Masa Depan)
3. Prof. Dra. Yenita Roza, M.Sc., Ph.D. (Kurikulum dan Desain Pembelajaran/Pendidikan Matematika)
4. Prof. Zetra Hainul Putra, S.Si., M.Sc., Ph.D. (Pembelajaran Matematika Sekolah Dasar)
5. Prof. Ir. Eni Yulinda, M.P., Ph.D. (Sosial Ekonomi Perikanan)
6. Prof. Drs. Daeng Ayub, M.Pd., Ph.D. (Manajemen Pendidikan)
7. Prof. Dr. Ir. Mulyadi, M.Phil. (Teknik Budidaya Ikan Sistem Resirkulasi)
8. Prof. Dr. Erdianto Effendi, S.H., M.Hum. (Hukum Pidana Materiel)
Dengan pengukuhan tersebut, jumlah Guru Besar aktif di Universitas Riau meningkat menjadi 144 orang yang tersebar di sepuluh fakultas.
Peningkatan ini menjadi indikator penguatan kualitas akademik sekaligus modal strategis bagi Unri dalam memperluas dampak riset dan pengabdian kepada masyarakat.
Rektor Unri juga menegaskan bahwa arah pengembangan keilmuan para Guru Besar sejalan dengan kebijakan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi terkait Perguruan Tinggi Berdampak.
Kebijakan ini mendorong perguruan tinggi tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga aktif menghadirkan solusi atas persoalan sosial, ekonomi, dan lingkungan.
“Kepakaran para Guru Besar Unri sangat relevan dengan agenda nasional, khususnya Astacita Presiden, seperti penguatan pembangunan sumber daya manusia, sains dan teknologi, serta hilirisasi dan industrialisasi untuk meningkatkan nilai tambah di dalam negeri,” jelasnya.
Berbagai inovasi yang dikembangkan mencakup teknologi kesehatan, kendaraan ramah lingkungan, sistem resirkulasi budidaya ikan, penguatan kurikulum dan pembelajaran, kepemimpinan pendidikan berbasis budaya, hingga pengembangan hukum pidana yang lebih berkeadilan.
Inovasi-inovasi tersebut dinilai memiliki potensi besar dalam mendukung kebijakan publik yang berbasis data, berkelanjutan, dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.
Di tengah dinamika dan disrupsi global yang semakin kompleks, Unri mendorong para Guru Besar untuk berperan sebagai lokomotif perubahan, baik di lingkungan akademik maupun di tengah masyarakat. Integritas akademik, etika ilmiah, serta keberpihakan pada kepentingan publik menjadi nilai utama yang harus senantiasa dijaga.
“Dari Universitas Riau harus lahir pemikiran-pemikiran besar yang mampu menggerakkan perubahan dan berkontribusi bagi terwujudnya Indonesia Emas 2045,” tutup Rektor.*