|
METRORIAU.COM
|
![]() |
|
||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||

PEKANBARU - Mahasiswa Universitas Huaqiao (Huaqiao University) Tiongkok perkenalkan seni dan kebudayaan Tiongkok kepada siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Metta Maitreya Pekanbaru.
Kegiatan dalam rangka praktek magang di liburan musim panas dan musim dingin. Dilaksanakan selama tiga hari di Sekolah Metta Maitreya, mulai tanggal 27 hingga 29 Januari 2026.
Pada hari kedua, Rabu (28/1), siswa diperkenalkan seni Lian Pu atau opera Beijing, yaitu seni rias wajah tradisional dalam opera Tiongkok (terutama Peking Opera) yang digunakan untuk menonjolkan peran, karakter dan emosi tokoh.
"Lian Pu atau opera Beijing bisa dengan make up atau pakai topeng. Untuk hari ini, kita sediakan topeng yang sudah bermotif, siswa tinggal mewarnainya," kata Ketua Pelaksana, Alwin.
Dikatatakannya, warna pada topeng melambangkan karakter tokoh, seperti warna merah lebih ke berani. Warna untuk menyampaikan kepribadian aktor secara visual kepada penonton.
Selain seni Lian Pu, Mahasiswa Universitas Huaqiao juga mengenalkan seni tradisional Tiongkok lainnya kepada siswa.
Sementara itu, Kepala Sekolah SMK Metta Maitreya, Meiga Ervianti SAP mengaku senang dan mengucapkan terima kasih atas kunjungan Mahasiswa Universitas Huaqiao. "Kegiatan sudah dilaksanakan di tahun sebelumnya dan mendapat respon bagus dari siswa," ungkapnya.
Dikatakannya, kegiatan diikuti 335 siswa SMP dan 285 siswa SMK Metta Maitreya.
Salah satu siswa SMP Metta Maitreya, Jacelyn mengatakan sangat tertarik mengikuti kegiatan ini, karena bisa mengetahui lebih jauh tentang kebudayaan Tiongkok.
Asal usul Lian Pu bisa ditelusuri sejak teater rakyat Tiongkok kuno, terutama pada Dinasti Tang (618-907). Ketika para aktor mulai mengenal wajah untuk memperjelas ekspresi di atas panggung. Namun bentuk Lian Pu yang sistematis dan simbolis berkembang pesat pada Dinasti Ming (1368 - 1644) dan Dinati Qing (1644 - 1912) bersama dengan berkembangnya Opera Beijing.
Pada masa itu, pertunjukkan dilakukan di pangung terbuka dengan jarak penonton yang jauh. Oleh karena itu, rias wajah yang kontras dan simbolis sangat diperlukan agar penonton dapat langsung mengenali tokoh dan wataknya.*