|
METRORIAU.COM
|
![]() |
|
||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||

PEKANBARU - Bazar buku internasional Big Bad Wolf (BBW) kembali memperluas jangkauannya di Indonesia dengan memilih Pekanbaru sebagai salah satu kota tujuan pada awal 2026. Pemilihan kota ini bukan tanpa alasan, melainkan melalui riset data dan berbagai pertimbangan strategis.
Country Director Big Bad Wolf Books Indonesia, Marthius Wandi Budianto, menjelaskan bahwa pihaknya melakukan analisis terhadap sejumlah variabel sebelum menentukan kota yang akan disambangi. Mulai dari jumlah penduduk, pertumbuhan ekonomi daerah, hingga peningkatan jumlah sekolah internasional di Pulau Sumatera.
"Kami juga banyak berdiskusi dengan rekan-rekan, termasuk dari PRDC, untuk mendapatkan insight kota mana yang pertumbuhan ekonominya cukup baik. Dari berbagai variabel itu, akhirnya kami memutuskan Pekanbaru sebagai salah satu tujuan," ujar Wandi, Senin (2/2/2026) di Transmart Pekanbaru.
Berbeda dari anggapan bahwa BBW hanya menyasar pelajar, Wandi menegaskan bahwa bazar ini ditujukan untuk semua kalangan usia. Menurutnya, persoalan utama literasi di Indonesia bukanlah rendahnya minat baca, melainkan keterbatasan akses terhadap buku, khususnya buku berbahasa Inggris.
"Kalau ditanya minat baca orang Indonesia rendah atau tidak, saya rasa tidak. Banyak orang ingin membaca, tapi bukunya sulit ditemukan dan harganya mahal," katanya.
Ia menyoroti minimnya toko buku di pusat perbelanjaan maupun kota-kota besar, yang tidak sebanding dengan kebutuhan masyarakat terhadap buku berkualitas. Melalui BBW, masyarakat bisa mendapatkan buku dengan harga jauh lebih terjangkau.
Salah satu keunggulan utama Big Bad Wolf dibandingkan ritel buku lainnya adalah harga. BBW menawarkan diskon hingga 20–30 persen lebih murah dibandingkan toko buku konvensional. Bahkan, dengan promo tambahan dari mitra pembayaran, harga bisa semakin rendah.
"Dengan harga seperti ini, kami berharap buku bisa diakses oleh lebih banyak orang, dari anak-anak hingga dewasa," jelas Wandi.
Untuk target di Pekanbaru, BBW tidak hanya mengejar angka penjualan, tetapi juga ingin menciptakan pembaca baru. Fokus utama diarahkan pada keluarga muda, khususnya orang tua milenial dengan anak usia 4–7 tahun.
"Kami ingin menjadi alternatif bagi orang tua yang khawatir anaknya terlalu sering bermain gadget. Datang ke sini, ajak anaknya menemukan keseruan membaca buku," katanya.
Nama Big Bad Wolf bukan sekadar branding unik. Di baliknya, tersimpan misi sosial yang kuat. Wandi menceritakan, BBW merupakan perusahaan berbasis misi yang didirikan oleh salah satu pendirinya yang mengalami disleksia sejak kecil.
"Partner founder kami mengalami kesulitan membaca sejak kecil dan selalu berada di posisi paling belakang di sekolah. Dari pengalaman itu, ia merasa tidak boleh ada anak lain yang mengalami hal serupa," ungkapnya.
Awalnya, BBW fokus menjual buku anak-anak. Namun seiring waktu, berkembang menjadi gerakan global untuk mengatasi masalah distribusi buku yang tidak merata di berbagai negara.
Di Pekanbaru, BBW menghadirkan lebih dari 2,5 juta eksemplar buku dengan lebih dari 380 ribu judul, menempati area pameran seluas sekitar 2.500 meter persegi. Koleksinya mencakup buku anak, fiksi, nonfiksi, hingga berbagai topik seperti kesehatan, hobi, spiritual, alam, dan pengembangan diri.
"Kami membawa lebih dari lima juta buku secara total. Hampir semua topik tersedia," kata Wandi.
Disisi lain, keberhasilan BBW di Indonesia juga tidak lepas dari kerja sama jangka panjang dengan Bank Central Asia (BCA) yang telah terjalin selama 10 tahun. Menurut Wandi, dukungan BCA sejak awal menjadi faktor penting keberanian BBW masuk ke pasar Indonesia.
"Kami percaya pengalaman pelanggan terbaik hanya bisa dicapai lewat kolaborasi dengan mitra yang juga mengutamakan kenyamanan konsumen," ujarnya.
Dengan hadirnya Big Bad Wolf di Pekanbaru, diharapkan akses buku berkualitas semakin terbuka dan budaya literasi masyarakat Indonesia terus tumbuh, khususnya Riau. Sebagai informasi, Big Bad Wolf (BBW) Books Pekanbaru 2026 sendiri digelar di Transmart Pekanbaru, Lantai 1, pada 2–8 Februari 2026. Acara ini akan berlangsung setiap hari mulai pukul 10.00 hingga 22.00 WIB dan terbuka untuk umum tanpa dipungut biaya masuk.*