|
METRORIAU.COM
|
![]() |
|
||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||

PEKANBARU - Ketua Fraksi Partai Nasional Demokrat (Nasdem) DPRD Provinsi Riau Munawar Syahputra SH MH meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan menyusul kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai menyelimuti Kota Pekanbaru dan membuat kualitas udara di daerah tersebut sempat menyentuh level berbahaya, pada Selasa (18/8). Munawar juga mendesak penanganan karhutla di Riau dioptimalkan sehingga kabut asap tidak semakin parah.
"Warga Pekanbaru harus lebih waspada karena kabut asap dapat berdampak kepada kesehatan. Lebih baik mengurangi aktivitas di luar rumah pada saat kualitas udara sedang memburuk. Kalaupun harus keluar rumah, kenakanlah masker," ujar Munawar, Selasa malam.
Munawar juga mengingatkan Dinas Kesehatan (Diskes) setempat untuk mewaspadai lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) karena karhutla masih terjadi di sejumlah daerah di Riau. "Gencarkan sosialisasi kepada masyarakat, khususnya pada kelompok rentan," katanya.
Di sisi lain, Munawar mendesak pemerintah memperkuat penanganan karhutla di Riau. "Kita berharap kabut asap tidak semakin parah," katanya.
Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Nasdem Pekanbaru itu juga meminta masyarakat dan perusahaan tidak membuka lahan dengan cara membakar. Ia pun meminta pihak penegak hukum bertindak tegas terhadap pelaku pembakaran hutan dan lahan. "Mari kita sama-sama menjaga agar langit Riau tetap biru," ucapnya.
Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi kabut asap akibat karhutla menyelimuti wilayah Pekanbaru, pada Selasa pagi. Bahkan, kualitas udara di Kota Bertuah sempat menyentuh level berbahaya.
Kepala BMKG Stasiun Pekanbaru Warjono mengatakan, asap tersebut terdeteksi terutama di Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru. Kualitas udara sempat berwarna hitam atau pada level berbahaya dengan Particulate Matter 2,5 (PM 2,5) 276 mikrogram per meter kubik.
"Tadi pagi (Selasa) terutama di bandara terpantau asap masuk ke wilayah Kota Pekanbaru dan kualitas udaranya terpantau sampai berwarna hitam atau berbahaya. Kemungkinan ini adalah asap yang berasal dari Kabupaten Pelalawan karena di sana banyak titik api," kata Warjono di Pekanbaru, Selasa.
Akan tetapi, menurut Warjono, kondisi asap tersebut tidak berlangsung lama yakni dari pukul 08.00 hingga 09.00 Waktu Indonesia Barat (WIB). Hal ini disebabkan oleh angin yang cukup kencang sehingga asapnya dengan cepat memudar.
Setelah itu kualitas udara Pekanbaru sudah berwarna biru dengan kondisi sedang dan asap juga tidak terdeteksi lagi. Selain Pekanbaru, kondisi asap juga menyelimuti Kabupaten Pelalawan yang lebih pekat karena merupakan sumber asalnya.
"Hal itu terjadi karena di Riau terpantau 75 titik panas dan paling banyak di Pelalawan. Kebakaran masih terjadi di Kerumutan, daerahnya sulit dijangkau dan tanahnya gambut," ungkap Warjono, dikutip dari Antara.
BMKG mendeteksi sebanyak 602 titik panas atau hotspot sebagai indikasi awal karhutla di wilayah Pulau Sumatera, pada Senin (17/8) pukul 23.00 WIB. Titik panas terbanyak terpantau di Provinsi Bangka Belitung yakni 172 titik, disusul Sumatera Selatan 165 titik, dan Lampung 87 titik.
Sedangkan di Riau, terdeteksi 75 titik panas yang tersebar di 10 kabupaten dan kota. Pelalawan menjadi daerah dengan jumlah titik panas terbanyak, yakni 38 titik.
Hotspot lainnya terpantau di Kabupaten Rokan Hulu 9 titik, Kampar 8 titik, Siak 6 titik, Rokan Hilir 4 titik, Kota Dumai 4 titik, Kepulauan Meranti 2 titik, Indragiri Hulu 2 titik, Bengkalis 1 titik, dan Indragiri Hilir 1 titik.*