|
METRORIAU.COM
|
![]() |
|
||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||

SIAK – Asap tipis mengepul dari obat nyamuk bakar yang disematkan Ernawati di bahu kirinya. Perempuan 56 tahun asal Desa Kayu Ara itu perlahan menuruni tracking kayu menuju lumpur hitam di Kawasan Konservasi Mangrove Sungai Bersejarah (MSB), Desa Kayu Ara Permai, Kecamatan Sei Apit, Kabupaten Siak, Jumat (24/7). Sehari-hari ia bekerja sebagai penakik getah karet. Kebiasaan membawa obat nyamuk bakar ke tengah hutan pun terbawa saat mengikuti Lomba Mencari Lokan.
"Kalau menyadap karet saya memang biasa pakai obat nyamuk bakar supaya tidak digigit nyamuk. Hari ini saya pakai lagi karena di hutan mangrove nyamuknya juga banyak," katanya sambil tersenyum.
Di tangan kanannya tergenggam parang kecil. Dengan alat sederhana itu, Ernawati membongkar lapisan lumpur di sela-sela akar mangrove sebelum meraba tanah yang lembek untuk mencari lokan (Polymesoda erosa), kerang bakau yang hidup beberapa sentimeter di bawah permukaan. Setiap menemukan cangkang keras, ia segera memasukkannya ke dalam kantong plastik yang dibawanya.
Ernawati menjadi satu dari sekitar lima peserta perempuan di antara 52 peserta yang mengikuti Lomba Mencari Lokan dalam rangkaian Hari Mangrove Sedunia 2026. Bersama puluhan peserta lainnya, ia menyusuri lumpur yang licin sambil berpindah dari satu titik ke titik lain mencari lokan yang bersembunyi di balik akar-akar mangrove.
Suasana perlombaan jauh dari kesan mudah. Para peserta harus berjalan hati-hati di antara jalinan akar mangrove sambil membongkar lumpur menggunakan parang atau sabit kecil. Sesekali terdengar sorak kegembiraan ketika seseorang menemukan lokan berukuran besar. Namun lebih sering mereka harus berpindah-pindah lokasi karena hanya menemukan beberapa ekor.
Meski dikemas sebagai perlombaan, kegiatan ini bukan untuk mengajarkan masyarakat memperoleh lokan lebih banyak. Tujuan utamanya justru mengingatkan pentingnya menjaga habitat kerang bakau tersebut agar tetap lestari.
Koordinator Lomba Mencari Lokan, Wiri Andeska, mengatakan peserta berasal dari sejumlah desa di Kecamatan Sei Apit, seperti Bunsur, Mengkapan, Kayu Ara, Kayu Ara Permai, dan desa lainnya. Lomba tahun ini merupakan penyelenggaraan kedua setelah pertama kali digelar pada 2022.
Menurut Wiri, mencari lokan bukan mata pencaharian utama masyarakat Sei Apit. Aktivitas itu biasanya dilakukan pada waktu senggang untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga atau menambah penghasilan. Namun, harga lokan yang mencapai sekitar Rp15 ribu per kilogram membuat aktivitas pencarian semakin intensif sehingga populasinya mulai menurun.
"Walaupun kegiatan ini dinamakan lomba mencari lokan, pesan yang ingin kami sampaikan adalah agar masyarakat selalu menjaga lingkungan, termasuk habitat lokan. Perburuan secara masif, apalagi mengambil lokan yang masih kecil, akan membuat hewan ini semakin sulit ditemukan di alam," ujarnya.
Di beberapa sudut kawasan konservasi berdiri papan bertuliskan "Habitat Lokan". Kawasan Konservasi Mangrove Sungai Bersejarah (MSB), yang merupakan mitra binaan PT Imbang Tata Alam, menetapkan area tersebut sebagai zona perlindungan tempat lokan berkembang biak. Selain menjadi pusat konservasi mangrove, kawasan ini juga dikembangkan sebagai ruang edukasi lingkungan dan wisata berbasis masyarakat.
Menurut Wiri, sejak lomba pertama pada 2022 kawasan tersebut ditutup dari aktivitas pencarian lokan agar populasinya dapat berkembang biak secara alami.
"Kalau habitatnya tidak dijaga, lokan atau kerang bakau ini lama-kelamaan bisa punah. Karena itu kawasan konservasi harus menjadi tempat bagi lokan berkembang biak, bukan terus-menerus dieksploitasi," katanya.
Lokan bukan hanya memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat pesisir. Kerang bakau ini berperan sebagai filter feeder, yakni menyaring partikel organik dan mikroorganisme sehingga membantu menjaga kualitas perairan mangrove. Keberadaannya juga menjadi salah satu penanda bahwa ekosistem mangrove masih berada dalam kondisi sehat.
EMP CSR & Communication Division Manager, Iman Soerjasantosa, mengatakan pelestarian mangrove beserta seluruh kehidupan yang bergantung pada ekosistem tersebut merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung keberlanjutan lingkungan di sekitar wilayah operasi.
Menurutnya, melalui pendampingan terhadap Kawasan Konservasi Mangrove Sungai Bersejarah bersama PT Imbang Tata Alam, perusahaan ingin mendorong pengelolaan kawasan pesisir yang memberikan manfaat ekologis sekaligus manfaat bagi masyarakat.
"Sebagai perusahaan hulu minyak dan gas bumi, kami memahami bahwa keberlanjutan operasi tidak hanya bergantung pada kemampuan menyediakan energi, tetapi juga pada terjaganya lingkungan di sekitar wilayah operasi. Karena itu kami mendukung masyarakat mengelola kawasan konservasi agar manfaat ekologis dan manfaat ekonominya dapat terus dirasakan oleh generasi sekarang maupun yang akan datang," ujar Iman.
Bagi Abu Bakar, 60 tahun, warga Desa Bunsur, perlombaan tersebut menjadi pengalaman baru. Petani sawit itu mengaku sudah beberapa kali mengikuti lomba memancing, tetapi baru pertama kali ikut lomba mencari lokan.
"Saya sangat senang walaupun tidak dapat juara. Kalau ada waktu kosong saya memang mencari lokan. Kadang dimakan bersama keluarga, kalau hasilnya banyak baru dijual," katanya.
Kadarisman, 50 tahun, warga Desa Kayu Ara, juga kembali mengikuti perlombaan setelah menjadi peserta pada 2022. Buruh bangunan itu mengaku keikutsertaannya lebih untuk memeriahkan Hari Mangrove Sedunia daripada mengejar kemenangan.
"Biasanya kami hanya dapat sekitar dua kilogram, lalu dibagi ramai-ramai. Jadi lebih sering dimakan sendiri karena jumlahnya tidak banyak untuk dijual," ujarnya sambil tertawa.
Sementara itu, bagi Ernawati, pengalaman turun langsung ke lumpur mangrove menjadi pelajaran yang tak terlupakan.
"Saya memang ingin mencoba hal baru. Ternyata mencari lokan tidak semudah yang saya bayangkan," katanya sembari tersenyum.
Lomba Mencari Lokan menjadi satu dari tujuh kegiatan dalam rangkaian Hari Mangrove Sedunia 2026 bertema "Kolaborasi Generasi Hijau untuk Mangrove Berkelanjutan". Ketika Ernawati meninggalkan kawasan konservasi dengan kantong plastik berisi beberapa lokan, hasil yang dibawanya mungkin tidak seberapa. Namun, pengalaman sehari itu menghadirkan pesan yang lebih besar: menjaga hutan mangrove tidak cukup hanya dengan menanam pohon, tetapi juga melindungi seluruh kehidupan yang tumbuh dan berkembang di dalamnya.*